SuaraJawaTengah.id - Kota Tegal memiliki kelenteng berusia ratusan tahun yang masih digunakan untuk tempat beribadah warga keturunan Tionghoa hingga saat ini.
Kelenteng itu yakni Kelenteng Tek Hay Kiong yang berlokasi di Jalan Gurami, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat.
Selain usianya yang sudah berusia sekitar empat abad, kelenteng ini memiliki gamelan pusaka yang menjadi bukti akulturasi dan asimiliasi antara budaya China dengan budaya Jawa.
Pengurus Kelenteng Tek Hay Kiong, Chen Li Wei Dao Chang mengungkapkan, Kelenteng Tek Hay Kiong diperkirakan dibangun pada 1760. Pembangunan kelenteng ini untuk menghormati tokoh bernama Kwee Lak Kwa.
"Tokoh ini dipercaya pernah hidup di Kota Tegal dan beliau mencapai tingkat kedewaan di laut Tegal," ujar Chen Li saat ditemui Suara.com, Kamis (28/1/2020).
Untuk mengenang tokoh tersebut, setiap perayaan Tahun Baru Imlek, Kelenteng Tek Hay Kiong menggelar kirab gotong Toa Pe Kong ke Pelabuhan Tegal dan mengadakan ritual sembahyang di lokasi tersebut.
"Itu untuk mengenang tokoh Kwee Lak Wa yang moksa menjadi dewa mendapat gelar Tek Hai Cin Jin," ujarnya.
Menurut Chen Li, pendirian Kelenteng Tek Hay Kiong tak bisa dilepaskan dari pergolakan politik Kerajaan Mataram. Setelah ada perpanjian Giyanti pada 1755, Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua yakni Surakarta Hadiningrat dan Yogyakrta Hadininingrat.
"Setelah ada perjanjian Giyanti, otomatis Tegal menjadi wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan Mataram. Sepanjang wilayah Pantura termasuk Tegal jatuh ke VOC. VOC dengan politik devide et empira membagi komunitas-komunitas di Tegal. Jawa sendiri, Arab sendiri, Tionghoa sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Gulung Tikar, Pengusaha Warteg Ramai-ramai Pulang Kampung
Pada waktu itu, lanjut Chen Li, VOC menunjuk opsir untuk mengawasi dan mengontrol orang-orang Tionghoa di Tegal. Selain mengurusi hak-hak sipil orang-orang Tionghoa seperti akta kelahiran dan kematian, opsir dengan pangkat kapiten itu juga bertugas mendirikan dan mengurus kelenteng.
Hal ini karena pada waktu itu kelenteng menjadi pusat orang-orang Tionghoa untuk berkumpul dan beribadah.
"Opsir pertama di Tegal kurang jelas tahunnya berapa, tapi kelenteng Tegal diperkirakan berdiri tahun 1760 untuk menghormati Tek Hai Cin Jin," ujar Chen Li.
Menurut Chen Li, berdasarkan prasasti yang ada di kelenteng, pada awal berdiri, Kelenteng Tek Hay Kiong bernama Jin Jin Bio. Perubahan nama menjadi Tek Hay Kiong terjadi setelah kelenteng direnovasi besar-besaran pada 1837 karena kondisinya rusak.
Opsir Tegal kala itu, Tan Kun Hwai, mendatangkan tukang-tukang dan material dari Tiongkok untuk merenovasi total kelenteng.
"Jadi bangunan sekarang masih bangunan asli hasil renovasi tahun 1837. Yang baru itu bangunan-bangunan di sampingnya saja. Nama lama diubah jadi Tek Hay Kiong. Kiong itu artinya tempat peribadahan agama Tao. Secara harfiah artinya istana, artinya ini tempat istana untuk memuja tokoh Tek Hay Jin Jin," ungkap Chen Li.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026