Tugas Sandi salah satunya membuat barongsai untuk kebutuhan anggota Bhinneka Nusantara. Hampir tiap tahun, masing-masing club membuat barongsai baru.
Pertunjukkan yang atraktif menyebabkan barongsai rusak setiap kali selesai dipakai. Tidak hanya membuat barongsai, Sandi yang berdarah Hokkian juga aktif melatih para pemain muda agar ada regenerasi.
Saat ditemui di rumahnya di Jalan Daha No 36, Kemirirejo, Kota Magelang, Sandi sedang mengecat barongsai berukuran kecil. Barongsai berbahan karton itu dibuat untuk anak-anak.
Di perkumpulan Bhinneka Nusantara, anggota usia anak juga kebagian jatah tampil dalam pertunjukan barongsai.
“Sebelum show pemain dewasa, anak-anak kecil saya beri kesempatan tampil diawal. Gerakannya lucu karena tidak pakai pakem. Tapi anak-anak ya seperti itu. Mereka senang.”
Dulu atraksi barongsai hanya dimainkan terbatas oleh para pemuda etnis Tionghoa. Tapi sekarang tidak lagi. Di Magelang dan Yogyakarta, mayoritas anggota club barongsai adalah orang Jawa.
Lamanya masa pelarangan pertunjukan barongsai, bisa jadi salah satu sebab warga Tionghoa kurang tertarik menekuni kesenian warisan nenek moyang mereka.
Penyebab lainnya salah persepsi para guru di sekolah swasta yang melarang anak-anak Tionghoa belajar tarian barongsai.
“Orang Tionghoa rata-rata sekolah di swasta. Guru-guru agama mereka tidak memahami kebudayaan Tionghoa. Salah menafsirkan bahwa main barongsai dianggap memainkan simbol setan,” kata Sandi.
Baca Juga: Imlekan Nonton Wayang Potehi di Klenteng Tri Dharma Hong Tik Hian Surabaya
Padahal kata Sandi tidak ada unsur mistik apalagi penggunaan simbol setan dalam kesenian barongsai. Dia memastikan, tidak satupun pemain barongsai kesurupan saat pertunjukkan. “Ini hanya tarian simbol keberuntungan.”
Mayoritas pemain barongsai sekarang justru orang Jawa beragama Islam. Sebab dalam ajaran Islam tidak ada larangan bermain barongsai.
“Di muslim tidak ada larangan. Kiayi-nya malah minta tolong kami untuk main di khataman Tegalrejo (Pondok Pesantren API Tegalrejo). Itu setiap ada khataman, kami yang bantu disana. Mulai dulu mendiang Gus Muh (KH Ahmad Muhammad Chudlori) sampai sekarang Gus Yusuf Chudlori.”
Menghidupi Barongsai
Sandi mengaku kegiatannya membuat barongsai bukan untuk tujuan komersil. Tidak ada target jumlah produksi barongsai karena pembuatannya hanya berdasarkan permintaan anggota.
Anggota cukup mengganti ongkos bahan yang berkisar Rp 5 juta- Rp 10 juta untuk satu set barongsai. Mahalnya biaya membuat barongsai karena banyak bahan sulit didapat.
Berita Terkait
-
Di Kalbar Warga Tionghoa Dipersilakan Ibadah, Namun Kegiatan Budaya dan Kerumunan Harus Sesuai Aturan Satgas Covid-19
-
10 Kata-Kata dan Doa Imlek 2022, Bisa Dijadikan Ucapan Tahun Baru Imlek untuk Sahabat dan Keluarga
-
Ini Makna Lilin yang Terus Menyala Sepanjang Perayaan Imlek, Syaratnya Harus Berwarna Merah!
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
BRI Peduli Bangun Posko Logistik di Tiga Wilayah Terdampak Gempa NTT
-
Jateng Masuki Usia ke-81, Wakil Ketua DPRD Sarif Abdillah Tekankan Kunci Utama Kemajuan Daerah
-
Pendaki Asal Brebes Dilaporkan Jatuh ke Kawah Gunung Slamet saat Swafoto
-
Pulihkan Psikologis Warga Gempa NTT, Polda Jateng Berangkatkan Tim Trauma Healing
-
Pesta Rakyat Saloka Rayakan HUT ke-81 RI Bersama Warga dan Pengunjung