"Kami menerima undangan tersebut dengan penuh rasa hormat. Mudah-mudahan dunia dapat memberikan solusi terhadap masalah ini, dan kita tidak akan melihat dampak yang lebih besar lagi," kata dia dalam diskusi itu, seraya mengungkapkan harapannya agar kekejaman yang terjadi di Ukraina dapat segera dihentikan.
Zelenskyy mengatakan dirinya meyakini bahwa pertemuan puncak G20 itu akan menjadi diskusi yang bersahabat di antara negara-negara.
Dia juga menjelaskan bagaimana Ukraina melakukan berbagai upaya untuk mengurangi krisis pangan dengan menyalurkan pasokan melalui rute kereta api dan pelabuhan Eropa.
Namun, Rusia juga berusaha memutus dan menghancurkan jembatan, rel kereta api, dan kota-kota Ukraina lewat serangan artileri, kata dia.
"Inilah realitas yang tengah kami hadapi sejak 24 Februari," katanya, merujuk pada awal invasi Rusia di Ukraina.
Hingga saat ini, tekanan dunia internasional melalui dukungan moral maupun aksi boikot tidak cukup membuat Rusia mengendurkan serangannya di Ukraina, kata Zelenskyy.
Terkait perundingan damai, dia mengatakan dirinya tidak melihat adanya kemajuan yang substansial. Dia mengaku belum mendapatkan respons dari Rusia atas usulan Ukraina untuk menghentikan perang sejak awal negosiasi.
Karena itulah, Zelenskyy berharap agar pertemuan puncak G20 di Bali dapat mencari jalan keluar atas krisis yang terjadi di Ukraina.
Dalam diskusi yang sama, Wakil Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar mempertanyakan sikap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa terkait nasib warga Ukraina yang menjadi korban perang.
Menurut dia, penjelasan langsung Presiden Zelenskyy tentang kondisi Ukraina menjadi penting karena selama ini informasi terkait kondisi perang Ukraina-Rusia yang sampai ke Indonesia masih simpang siur.
Muhaimin mengaku selama ini dirinya gencar mengampanyekan perdamaian dunia dan meminta Rusia untuk segera mengakhiri invasi ke Ukraina.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB melaporkan 816 kematian warga sipil di Ukraina. Pemerintah negara itu mengatakan 222 orang telah tewas di ibu kota Kiev, termasuk 60 warga sipil dan empat anak-anak, seperti dikutip Reuters.
Pasokan makanan ke Ukraina terputus dan konflik militer di sana telah mengarah pada "bertambahnya kasus kelaparan" di seluruh dunia, kata badan bantuan pangan PBB memperingatkan.
Arus pengungsi dari Ukraina yang melintasi perbatasan telah berkurang tetapi bisa meningkat lagi jika kondisi di wilayah barat negara itu memburuk, kata badan pengungsi PBB.
PBB mengatakan 3,27 juta orang telah keluar dari Ukraina dan 2 juta lainnya terpaksa mengungsi ke wilayah lain di negara itu.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Ruang Kelas SDN Sendangmulyo Semarang Hancur Ditimpa Pohon Roboh
-
PSIS Kunci Raffinha, Mahesa Jenar Perkuat Misi Kembali ke Super League
-
Deepfake AI Teror Mahasiswi PTN di Solo, Polisi Kantongi Profil Terduga Pelaku
-
Sukses BRIvolution: Transaksi QRIS dan Merchant BRI Melesat
-
Pembukaan Rute dan Layanan Baru Dongkrak Arus Peti Kemas Nasional