"Mau dijual tapi belum laku. Rumah besar itu. Yang beli namanya Pak Kumpul, warga Desa Dawung. Beli rumah untuk anaknya tapi nggak mau menempati."
Kami penasaran mengapa warga Dusun Puntingan satu per satu meninggalkan rumah mereka terbengkalai. Juga tidak satupun anak keturunan mereka mau menempati rumah warisan di dusun itu.
"Dulu kan orang-orangnya kurang (bergaul). Kalau sama tetangga kurang bergaul. Kadang-kadang iri sama waris. Kurang rukunlah," kata Sakdan.
Gumuk Angker
Soal cerita-cerita warga sekitar Puntingan yang menyebut dusun itu dikuasai makhluk asral yang membuat para penghuninya tidak betah, Sakdan menjelaskan.
"Menurut saya bukan karena ada gangguan (makhluk halus). Cuma memang tempatnya singup. Gumuk ini kalau orang bilang angker. Sebelah makam itu ada gumuk yang di tengahnya ada pohon pakel."
Menurut orang-orang tua di Desa Dlimas, keberadaan bukit kecil (gumuk) di Dusun Puntingan ada kaitannya dengan kisah terbentuknya Gunung Tidar.
Makhluk halus yang diceritakan menguasai tanah Jawa sempat akan mendirikan kerajaan di kawasan ini, sebelum mendirikan Gunung Tidar.
Namun rencana itu batal karena proses mistis mendirikan gunung keburu ketahuan oleh manusia. "Gunung Tidar itu tadinya mau didirikan di sini. Tapi keburu ketahuan orang. Sebelum ada jago kluruk ada warga yang menyapu sarean yang bawah."
Baca Juga: Kuat Ma'ruf Sempat Ancam Brigadir J Pakai Pisau Saat di Magelang, Apa Penyebabnya?
Sekitar 200 meter dari Dusun Puntingan masuk ke arah hutan, terdapat 2 kompleks makam: makam bawah dan makam atas.
Kompleks makam bawah terdapat makam yang diyakini sebagai sarean Raden Rahmat yang konon seorang priyayi dari Demak. Di kompleks makam itu juga ada kuburan seorang putri asal Jepara.
Kompleks makam atas khusus dipakai untuk menguburkan warga Dusun Puntingan. Istiono salah satu warga Puntingan yang dimakamkan di lahan itu.
Menurut Sakdan di kompleks makam atas juga terdapat peninggalan yoni dan lingga. Belum jelas apakah keberadaan benda purbakala lambang kesuburan itu menunjukkan adanya kampung kuno di sekitar Dusun Puntingan pada masa kerajaan Hindu.
Makam Raden Rahmat kata Sakdan, hingga saat ini masih sering diziarahi pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Para peziarah sering menggunakan mushola di Dusun Puntingan untuk beribadah sebelum atau setelah berziarah.
Mushola itu menjadi satu-satunya bangunan di Dusun Puntingan yang masih dipakai. "Dibangun sejak warga sini masih ada. Sampai sekarang masih dipakai. Ada orang ziarah, buat orang beristirahat dari sawah."
Berita Terkait
-
Rekomendasi Komnas HAM Soal Dugaan Kekerasan Seksual Brigadir J di Magelang, Mahfud MD : Itu Hanya Pelengkap Informasi
-
Komnas HAM Yakin Ada Perintah Cuci Baju untuk Hilangkan Residu Bekas Penembakan Brigadir J
-
Komnas HAM Akui Motif Pembunuhan Brigadir Joshua karena Dugaan Pelecehan Seksual Putri Sambo di Magelang
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
IHSG Tembus Rekor Baru 9.110, Bos BEI Sanjung Menkeu Purbaya
-
7 Rekomendasi HP Baterai Jumbo Paling Murah di Bawah Rp3 Juta, Aman untuk Gaming
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
Terkini
-
OTT Bupati Sudewo, Gerindra Jateng Dukung Penuh Penegakan Hukum dari KPK
-
Gebrakan Awal Tahun, Saloka Theme Park Gelar Saloka Mencari Musik Kolaborasi dengan Eross Candra
-
Deretan Kontroversi Kebijakan Bupati Pati Sudewo Sebelum Berakhir di Tangan KPK
-
OTT KPK di Pati: 6 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan yang Sudah Lama Dibisikkan Warga
-
7 Kontroversi Bupati Pati Sudewo Sebelum Kena OTT KPK, Pernah Picu Amarah Warga