Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 03 April 2026 | 08:05 WIB
Kolase pasangan pengantin menunjukan mahar pernikahan yang berupa bibit pohon mangga. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Pasangan Vicky dan Feronika menikah di Rembang pada 29 Maret 2026 dengan mahar berupa dua bibit pohon mangga.
  • Pemberian mahar unik tersebut dilakukan sebagai simbol komitmen membangun rumah tangga serta wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan.
  • Aksi pernikahan ini mendapatkan apresiasi dari Kementerian Agama karena dianggap sebagai inspirasi positif dalam memaknai mahar secara luas.

SuaraJawaTengah.id - Prosesi pernikahan biasanya identik dengan mahar berupa emas, uang, atau seperangkat alat ibadah. Namun berbeda dengan pasangan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang memilih cara unik dan penuh makna.

Seorang pemuda bernama Vicky Rio Wimbi Utomo memberikan mahar berupa dua bibit pohon mangga saat meminang Feronika Parastuti.

Pernikahan ini pun menjadi sorotan karena bukan hanya unik, tetapi juga sarat nilai filosofi dan kepedulian terhadap lingkungan. Berikut 7 fakta menarik di balik pernikahan tersebut.

1. Mahar Tidak Biasa, Sepasang Bibit Pohon Mangga

Dalam prosesi akad nikah yang berlangsung di Desa Sambiyan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Vicky memberikan mahar berupa dua bibit pohon mangga.

Pilihan ini jelas berbeda dari mahar pada umumnya, sehingga langsung menarik perhatian masyarakat.

Namun di balik keunikan tersebut, tersimpan makna yang lebih dalam dibanding sekadar simbol formalitas pernikahan.

2. Pernikahan Digelar di Rembang, Jadi Sorotan

Acara pernikahan berlangsung pada Ahad (29/3/2026) di Dusun Cendono, Desa Sambiyan.

Baca Juga: Semen Gresik Apresiasi Tukang Bangunan, Program Tukang Hebat Berhadiah Utama Tiga Unit Motor Matic

Momen ini tidak hanya menjadi hari bahagia bagi kedua mempelai, tetapi juga viral karena konsepnya yang anti-mainstream.

Banyak pihak menilai, langkah ini membawa pesan baru dalam tradisi pernikahan di tengah masyarakat.

3. Mahar Jadi Simbol Komitmen Rumah Tangga

Bagi Vicky, mahar berupa pohon mangga bukan sekadar simbol, melainkan bentuk komitmen dalam membangun rumah tangga.

Ia memaknai pohon sebagai representasi perjalanan kehidupan bersama pasangan.

“Sebagai simbol wujud merawat dan mencintai pasangan, serta komitmen dalam membangun rumah tangga bersama,” ungkap Vicky.

4. Filosofi Pohon: Tumbuh, Kuat, dan Bertahan

Lebih dalam lagi, Vicky menjelaskan bahwa setiap bagian dari pohon memiliki makna tersendiri dalam kehidupan pernikahan.

“Saya memilih pohon mangga sebagai mahar, adalah doa yang kutanam dalam-dalam di tanah kehidupan. Agar cinta kita tumbuh seperti akarnya, menguat meski tak selalu terlihat, dan menjulang seperti batangnya, teguh menghadapi musim apa pun,” ujarnya.

Filosofi ini menggambarkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan sesaat, tetapi proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan.

5. Harapan Manis dari Buah yang Akan Tumbuh

Tidak hanya berhenti pada simbol, Vicky juga memiliki harapan jangka panjang dari mahar tersebut.

Ia berharap, saat pohon mangga itu tumbuh dan berbuah, manisnya buah menjadi simbol kebahagiaan yang lahir dari kesabaran.

“Kelak saat pohon tersebut berbuah, manisnya menjadi saksi atas kesabaran yang kami rawat bersama,” ungkapnya.

Makna ini menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam rumah tangga tidak instan, melainkan hasil dari proses yang dijaga bersama.

6. Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan

Selain memiliki makna personal, mahar pohon mangga juga menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Vicky menilai bahwa pernikahan tidak hanya soal hubungan dua insan, tetapi juga tanggung jawab terhadap bumi.

“Karena mahar ini bukan sekadar pemberian, melainkan kehidupan yang kutitipkan untuk kita jaga, kita rawat,” ujarnya.

Langkah ini menjadi contoh bahwa nilai keberlanjutan bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk dalam momen pernikahan.

7. Dapat Apresiasi dari Kementerian Agama

Aksi unik pasangan ini mendapat respons positif dari berbagai pihak, termasuk dari Kementerian Agama.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Rembang, H. Moh. Mukson, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif tersebut.

Ia menilai langkah ini sejalan dengan nilai-nilai yang mendorong kesadaran lingkungan dan keberkahan dalam kehidupan berumah tangga.

Pernikahan ini pun dianggap sebagai inspirasi baru dalam memaknai mahar secara lebih luas.

Kisah pernikahan ini menunjukkan bahwa mahar tidak harus selalu bernilai materi tinggi. Yang terpenting adalah makna dan niat di baliknya.

Pohon mangga yang diberikan bukan hanya simbol cinta, tetapi juga harapan, komitmen, dan tanggung jawab.

Di tengah gaya hidup modern yang serba instan, langkah sederhana ini justru mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati dibangun dari proses, kesabaran, dan nilai yang dijaga bersama.

Kontributor : Dinar Oktarini

Load More