- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan program Dokter Spesialis Keliling untuk mengatasi kendala jarak dan biaya warga desa.
- Program yang dimulai Maret 2025 ini menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis dan skrining penyakit di berbagai balai desa.
- Hingga Agustus 2026, program tersebut telah menjangkau ribuan desa dan melayani ratusan ribu warga di Jawa Tengah.
SuaraJawaTengah.id - Jarak menuju rumah sakit bukan persoalan sederhana bagi Retno. Dari Desa Kapulogo, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, perempuan itu harus menempuh perjalanan sekitar 36 kilometer menuju rumah sakit terdekat.
Tinggal di salah satu desa paling timur Kabupaten Wonosobo yang berbatasan dengan Kabupaten Magelang, akses menuju layanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri, terlebih ketika ia dan anaknya membutuhkan penanganan dokter spesialis.
Bagi warga yang memiliki kendaraan, perjalanan tersebut mungkin masih bisa ditempuh. Namun bagi Retno, keterbatasan transportasi membuat layanan kesehatan spesialis menjadi sesuatu yang tidak mudah dijangkau.
Anaknya mengalami gangguan pembekuan darah di otak dan selama ini harus menjalani pemeriksaan ke dokter spesialis saraf. Kondisi ekonomi dan tidak adanya kendaraan membuat pengobatan sempat terhenti.
Harapan itu datang ketika Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah digelar di balai desa pada Kamis, 30 Juli 2026. Dokter spesialis dari berbagai bidang hadir memberikan pemeriksaan, konsultasi, hingga pengobatan secara gratis.
Retno menjadi salah satu warga yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Bukan hanya dirinya yang mendapat pemeriksaan, anaknya pun memperoleh layanan dokter spesialis tanpa harus pergi jauh ke rumah sakit.
"Saya terbantu. Kendala kami memang tidak punya kendaraan, jadi sempat berhenti berobat. Dari sini kami bisa berobat lagi," tuturnya pada Kamis, 30 Juli 2026.
Retno bukan satu-satunya warga yang merasakan manfaat program tersebut. Di berbagai penjuru Jawa Tengah, cerita serupa bermunculan sejak Speling mulai hadir menyapa masyarakat desa.
Di Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jamsari datang ke lokasi Speling dengan langkah tertatih. Selama 15 tahun ia hidup dengan diabetes. Ia mengaku sempat lalai menjalani kontrol rutin karena biaya berobat yang cukup besar.
Baca Juga: Pemprov Jateng Uji Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
"Sekali kontrol sekitar Rp450 ribu. Saya kira sudah sembuh, ternyata kaki sampai luka karena efek gula," ujarnya.
Kehadiran Speling memberinya kesempatan untuk kembali berkonsultasi dengan dokter spesialis tanpa terbebani biaya.
Cerita lain datang dari Banyumas. Jika Retno dan Jamsari memanfaatkan Speling untuk mengatasi persoalan kesehatan fisik, Feni Anindya (16), siswi SMA Negeri 2 Purwokerto, justru memperoleh manfaat dari layanan kesehatan jiwa yang disediakan dalam program tersebut.
Saat itu ia tengah dilanda kebingungan menentukan arah pendidikan setelah lulus sekolah. Melalui konsultasi dengan psikolog, Feni mendapat ruang untuk berdiskusi mengenai pilihan jurusan kuliah dan rencana masa depannya.
"Alhamdulillah setelah berkonsultasi jadi lebih ada gambaran. Saya berharap program ini bisa dilaksanakan lagi," katanya.
Tiga kisah itu datang dari daerah yang berbeda. Meski menghadapi persoalan kesehatan yang beragam, ketiganya dipertemukan oleh satu solusi yang sama, yakni Program Dokter Spesialis Keliling. Melalui pendekatan jemput bola, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menghadirkan layanan dokter spesialis lebih dekat dengan masyarakat, terutama mereka yang selama ini terkendala jarak, biaya, maupun akses pelayanan kesehatan.
Dari Rumah Sakit ke Desa-Desa
Program Speling mulai bergulir pada Maret 2025 sebagai jawaban atas tantangan pemerataan layanan kesehatan di Jawa Tengah. Meski jaringan puskesmas dan rumah sakit terus berkembang, masih banyak masyarakat yang kesulitan menjangkau dokter spesialis karena faktor geografis maupun ekonomi.
Setidaknya terdapat lima layanan utama yang menjadi fokus Speling, yakni skrining tuberkulosis (TBC), pemeriksaan kanker serviks, layanan kesehatan jiwa, pemeriksaan ibu hamil, serta pelayanan kesehatan balita, terutama untuk mendukung percepatan penurunan stunting.
Seluruh layanan diberikan secara gratis, cukup dengan menunjukkan kartu identitas. Kedekatan lokasi pelayanan di balai desa membuat masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan biaya transportasi yang besar untuk memperoleh layanan dokter spesialis.
Hingga 13 Agustus 2026, Program Speling telah dilaksanakan sebanyak 1.553 kali di 1.378 desa yang tersebar di 465 kecamatan pada 35 kabupaten/kota. Selama periode tersebut, sebanyak 128.109 orang warga telah memperoleh layanan kesehatan secara langsung. c
Namun, keberhasilan Speling tidak hanya diukur dari banyaknya desa yang disambangi atau jumlah masyarakat yang datang memeriksakan diri. Yang jauh lebih penting adalah ribuan kasus penyakit yang berhasil ditemukan lebih awal sehingga dapat segera ditangani.
Salah satu fokus utama program ini adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hingga awal Agustus 2026, pemeriksaan antenatal care telah dilakukan terhadap 15.848 ibu hamil. Dari jumlah tersebut, 12.537 orang dinyatakan dalam kondisi normal, sementara 3.311 lainnya memerlukan pemantauan dan penanganan lebih lanjut.
Perhatian besar juga diberikan pada penanggulangan tuberkulosis (TBC), penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional. Melalui Speling, skrining TBC telah menjangkau 53.463 warga. Hasilnya, ribuan orang teridentifikasi sebagai suspek TBC maupun memerlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan uji Mantoux.
Layanan kesehatan jiwa juga menjadi perhatian serius. Sebanyak 37.605 warga mengikuti skrining kesehatan mental, dengan 1.358 orang teridentifikasi memerlukan penanganan lebih lanjut. Sementara itu, pemeriksaan kanker serviks telah menjangkau 5.915 perempuan dan menemukan 497 kasus yang membutuhkan tindak lanjut medis.
Bersinergi dengan Program Nasional
Keunggulan lain Speling adalah kemampuannya berkolaborasi dengan berbagai program kesehatan yang telah berjalan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengintegrasikan Speling dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah pusat sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan yang lebih menyeluruh dalam satu kesempatan.
Sinergi tersebut membuahkan hasil yang membanggakan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Jawa Tengah mencatatkan capaian CKG tertinggi di Indonesia. Sebanyak 14.248.868 masyarakat telah mengikuti program tersebut atau sekitar 37,4 persen dari total sasaran nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menegaskan bahwa Speling tidak berhenti pada proses skrining semata. "Kami tidak akan berhenti pada deteksi dini, tetapi berlanjut untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Jawa Tengah secara holistik," ujarnya.
Menurut Zulfachmi, setiap temuan di lapangan akan ditindaklanjuti melalui sistem rujukan dan pendampingan sehingga masyarakat benar-benar memperoleh pelayanan hingga tuntas.
Membangun Jawa Tengah yang Lebih Sehat
Menjelang Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Speling menjadi salah satu penanda bagaimana pelayanan publik di sektor kesehatan terus bertransformasi.
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, kesehatan bukan hanya urusan pelayanan medis. Kesehatan merupakan fondasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus salah satu kunci dalam upaya menurunkan angka kemiskinan.
Karena itu, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti di rumah sakit atau puskesmas, tetapi harus mampu menjangkau masyarakat hingga ke desa-desa.
"Jadi kita dorong tidak hanya pelayanan di rumah sakit tapi juga di desa. Masyarakat desa akan senang mereka dapat layanan kesehatan gratis, bisa periksa kesehatan ke dokter spesialis, anaknya yang stunting juga ditangani, termasuk kesehatan jiwa dan sebagainya," tegas Luthfi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun terus memperluas jangkauan program tersebut. Hingga akhir 2026, Speling ditargetkan mampu melayani 284 ribu masyarakat melalui pelaksanaan di seluruh kabupaten dan kota. Target itu bukan sekadar mengejar angka, melainkan memastikan semakin banyak warga yang memperoleh kesempatan bertemu dokter spesialis tanpa harus terkendala jarak maupun biaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
Terkini
-
Gus Yasin Bongkar Peran Penting Anak Muda Jateng Demi Wujudkan Indonesia Emas 2045
-
Dari Loper Koran hingga Doktor, Cerita Arief Tuntaskan Disertasi Sambil Jaga Ibu di Rumah Sakit
-
Timnas ke Final, Pemprov Jateng Pastikan Nobar Berlanjut hingga Laga Puncak
-
Di Makassar, BRI Peduli Bekali Disabilitas Dengan Keterampilan dan Wawasan Digital
-
KP-KBP PSSI Jateng Tegas: Pemilihan 8 Oktober Harus Ditunda, Asprov Dilaporkan ke Komite Etik