- Akademisi Djoko Setijowarno menyatakan program motor listrik nasional berisiko menambah kemacetan perkotaan jika dibeli sebagai kendaraan pribadi tambahan.
- Pemerintah disarankan mengarahkan distribusi motor listrik ke wilayah perdesaan, daerah 3T, dan luar Jawa untuk efisiensi BBM.
- Keberhasilan industri nasional bergantung pada penguatan TKDN baterai, dukungan insentif tepat sasaran, serta pengembangan transportasi umum.
SuaraJawaTengah.id - Motor listrik nasional tengah didorong menjadi simbol baru kemandirian industri otomotif sekaligus bagian dari transisi energi Indonesia. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah motor listrik benar-benar membuat mobilitas masyarakat lebih baik, atau justru membuat jalanan semakin penuh?
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengingatkan pemerintah agar program Motor Listrik Nasional (Molinas) tidak hanya dilihat dari sisi pengurangan emisi dan penguatan industri.
Menurut dia, kebijakan tersebut harus mempertimbangkan persoalan transportasi yang lebih besar, terutama kemacetan di kawasan perkotaan.
Hal itu menjadi penting karena sepeda motor masih mendominasi kendaraan di Indonesia. Sepanjang 2025, tercatat 212.414 sepeda motor terlibat dalam kecelakaan lalu lintas berdasarkan data Korlantas Polri dan Road Safety Association (RSA).
Pada saat yang sama, sepeda motor menguasai lebih dari 80 persen populasi kendaraan terdaftar dan menyumbang sekitar 70-75 persen dari total kasus kecelakaan lalu lintas nasional.
Dengan kondisi tersebut, elektrifikasi sepeda motor memang dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Namun, menurut Djoko, mengganti mesin bensin dengan motor listrik tidak otomatis menyelesaikan persoalan kemacetan.
"Kota-kota di Indonesia mulai membenahi transportasi umum untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas. Saat ini, sekitar 75 persen hingga 80 persen kendaraan di wilayah perkotaan masih didominasi oleh sepeda motor. Jika distribusi penjualan motor listrik tidak diatur dengan bijak, upaya pemerintah kota mengatasi kemacetan tentu akan sia-sia," kata Djoko.
Motor Listrik Jangan Hanya Menambah Kendaraan
Menurut Djoko, persoalan terbesar dapat muncul ketika insentif dan harga murah membuat masyarakat membeli motor listrik sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau berpindah dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Baca Juga: Kampanye Akbar di GBK, Aksi Gibran Naik Motor Listrik Jadi Sorotan Publik
Jika itu terjadi, jumlah kendaraan di jalan tetap bertambah meskipun jenis energinya berubah.
"Insentif dan pemotongan harga pada motor listrik nasional berpotensi memicu lonjakan kepemilikan kendaraan pribadi. Jika masyarakat membeli motor listrik hanya sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau beralih ke angkutan umum, ruang jalan akan semakin padat," ujarnya.
Karena itu, Djoko menilai distribusi motor listrik perlu dirancang secara lebih selektif.
Kawasan perkotaan di Pulau Jawa yang sudah menghadapi persoalan kepadatan kendaraan tidak harus menjadi sasaran utama ekspansi. Sebaliknya, penetrasi motor listrik dapat diperbesar ke wilayah perdesaan, pulau-pulau kecil, daerah perbatasan, serta kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Strategi tersebut sekaligus membuka pasar baru bagi produk nasional tanpa memperbesar tekanan kendaraan di kota-kota besar.
Peluang Besar di Luar Jawa
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Java United Butuh Dukungan di Jatidiri, Tiket Lawan Borneo FC Dipangkas Jadi Rp27 Ribu
-
Buntut Viral Video Penyalahgunaaan Narkoba, 125 Narapidana Rutan Depok Dipindah ke Nusakambangan
-
Yoyok Sukawi Mundur Jelang KLB, Suksesi PSSI Jateng Makin Penuh Tanda Tanya
-
Bau Busuk di Gedung Kosong Kendal, Pria Terborgol Ditemukan Tewas
-
BRI Junio Hadir dengan Sentuhan Mobile Legends, Ada Kartu Koleksi hingga Cashback