Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 25 September 2026 | 11:24 WIB
Suasana Mooncake Festival 2026 yang digelar di Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, Kamis (24/9/2026). [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Kota Semarang menggelar Mooncake Festival 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie pada Kamis, 24 September 2026.
  • Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong kawasan Pecinan menjadi ruang budaya hidup yang memadukan tradisi, seni, kuliner, dan teknologi.
  • Festival tersebut menghadirkan pertunjukan imersif sejarah Laksamana Cheng Ho serta Jamuan Makan Tok Panjang guna mempererat silaturahmi antarwarga.

Salah satunya melalui pertunjukan imersif yang mengangkat sejarah dan sosok Laksamana Cheng Ho. Teknologi digunakan untuk menghidupkan kembali cerita sejarah sekaligus menghadirkannya dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi masa kini.

Bagi Agustina, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang monoton. Sejarah dan tradisi dapat dikemas dengan pendekatan baru sehingga tetap menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Dengan demikian, budaya tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan kota yang terus berkembang.

Tok Panjang Jadi Ruang Silaturahmi

Semangat kebersamaan juga terlihat dalam Jamuan Makan Tok Panjang yang menjadi salah satu rangkaian Mooncake Festival 2026 di Kelenteng See Hoo Kiong.

Tradisi tersebut mempertemukan masyarakat, perwakilan kelenteng, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Semarang dalam satu meja.

Agustina mengatakan, meja panjang dalam tradisi tersebut tidak sekadar menjadi tempat untuk menikmati makanan, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dan mempererat hubungan antarmasyarakat.

“Tok Panjang adalah tradisi jamuan yang dinikmati bersama. Hidangannya juga tidak boleh terlalu banyak, karena justru hidangan inilah yang akan membuat kita bercerita dan berbincang,” ujarnya.

Menurutnya, nilai kebersamaan tersebut relevan dengan semangat membangun Kota Semarang yang beragam. Tradisi menjadi medium untuk mempertemukan masyarakat dan menciptakan ruang komunikasi tanpa melihat latar belakang.

Baca Juga: Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026

Budaya Bertemu dengan Ekonomi Lokal

Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 sekaligus Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto Hermawan mengatakan, festival tersebut tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Ia mengatakan, bentuk kue bulan yang bulat memiliki makna keutuhan dan persatuan.

“Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan dan persatuan, semangat yang kami harapkan dapat terus kami jaga dalam kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan,” ujar Tanto.

Ia berharap Mooncake Festival dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul sekaligus mengenal tradisi dan kebudayaan Tionghoa yang menjadi bagian dari kehidupan Kota Semarang.

Selain menghadirkan rangkaian kegiatan budaya, festival tersebut juga membuka ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat.

Load More