Budi Arista Romadhoni
Kamis, 05 November 2026 | 12:19 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Kamis (5/11/2026). [Dok humas]
Baca 10 detik
  • Gubernur Ahmad Luthfi meresmikan elektrifikasi mesin penggilingan padi di Magelang untuk memperkuat swasembada pangan.
  • Penggunaan mesin listrik menurunkan biaya operasional penggilingan padi di Jawa Tengah hingga hampir 60 persen.
  • Program elektrifikasi periode 2025-2026 ini menjangkau 14 penggilingan skala kecil dengan anggaran sekitar Rp3,1 miliar.

SuaraJawaTengah.id - Biaya penggilingan padi di Jawa Tengah bisa ditekan hingga hampir 60 persen setelah penggunaan mesin berbasis listrik menggantikan bahan bakar diesel.

Efisiensi ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat swasembada pangan, sekaligus mendorong modernisasi pertanian yang tidak hanya menyasar proses produksi di sawah, tetapi juga pengolahan hasil panen.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, biaya penggilingan menggunakan mesin diesel sebelumnya mencapai Rp354.670 per ton. Setelah menggunakan mesin listrik, biaya tersebut turun menjadi Rp142.820 per ton.

Artinya, terdapat penghematan biaya operasional sebesar Rp211.850 per ton atau sekitar 59,7 persen.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, modernisasi sektor pertanian harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga pengolahan hasil panen.

Hal tersebut disampaikan saat meresmikan elektrifikasi Rice Milling Unit (RMU) skala kecil sekaligus meninjau Gerakan Pangan Murah (GPM) di Desa Ngadirojo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Kamis (5/11/2026).

"Modernisasi alat pertanian itu sangat dibutuhkan. Sekarang merupakan kebutuhan, bukan merupakan keinginan, tetapi kebutuhan. Harus modern," kata Luthfi.

Menurutnya, modernisasi tidak cukup hanya dilakukan pada tahap produksi. Pengolahan hasil panen juga harus diperkuat agar prosesnya lebih cepat, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi petani.

Salah satu langkah yang ditempuh yakni mendorong penggilingan padi skala kecil beralih dari mesin berbahan bakar diesel ke listrik.

Baca Juga: Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu per Kg, Pemprov Jateng Gelar Pasar Murah

Sepanjang 2025–2026, program elektrifikasi tersebut telah menjangkau 14 penggilingan padi skala kecil di Jawa Tengah dengan total pembiayaan sekitar Rp3,1 miliar.

Luthfi menilai penggilingan padi skala kecil memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Terlebih, banyak desa di Jawa Tengah memiliki kelompok tani dengan karakteristik dan kapasitas usaha yang berbeda.

Karena itu, dia meminta Bank Indonesia dan pihak terkait mengidentifikasi wilayah lain yang berpotensi mendapatkan bantuan serupa.

"Kalau ada beberapa tempat menggunakan penggilingan skala kecil, nanti akan menjadi besar. Ini merupakan suatu model yang bisa dikembangkan di wilayah kita," ujarnya.

Luthfi juga mengingatkan kelompok tani penerima bantuan agar merawat mesin dan memastikan pengoperasiannya dilakukan secara bertanggung jawab sehingga manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Tak Lagi Bergantung pada Solar

Load More