Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya

Mia Bustam menjadi tahanan politik selama 13 tahun

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 30 September 2020 | 16:33 WIB
Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya
Almarhum Mia Bustam di usia senja. (historia.id/Koleksi pribadi Sri Nasti Rukmawati).

Belakangan aku tahu pemuda itu bukan serdadu RPKAD, pimpinan Letkol Sarwo Edhi Wibowo yang ditugaskan memburu orang-orang yang dituduh anggota PKI di sepanjang Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Dia mahasiswa Universitas Indonesia. Anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang direkrut tentara karena piawai mengamuk dan memaki.

Aku diam. Tak ada alasan menjawab pertanyaan pria kesurupan ini. Mendadak dia mencabut pisau dan melemparkannya ke arahku.Crok! Pisau itu menancap di dinding beberapa senti di atas kepalaku.

Aku terkesiap. Jantungku berhenti. Hatiku berdesir, nafas tercekat berhenti di kerongkongan. “Tiba sudah ajalku,” dalam hati.

Baca Juga:AHY Ceritakan Kesaksian Kakeknya yang Dikenal Sebagai Penumpas PKI

Dia melangkah perlahan ke arahku. Matanya nyalang haus darah. Dicabutnya pisau tadi dan kembali dilempar ke arahku berkali-kali. Menancap di kanan, kiri leherku. Nyaris merobek urat nadi di batang tenggorokan. Mulutnya terus mendesiskan cacian. Mengalirkan bisa kata-kata dari lidahnya yang bercabang.

Aku tidak takut. Hanya ada marah tertahan tak berdaya. “Aku tidak akan bergerak. Jika aku bergerak pasti celaka. Aku tidak mau mati disini, aku ingin bertemu anak-anakku.” 

Terbayang mata bundar Rino yang heran memandang bintara menyandang bedil, ketika aku ditangkap di rumahku dulu. Rindu menyayat hatiku, namun segera kuredam. Orang gila ini tak boleh menangkap takut dimataku.

Rasa menolak tunduk, sama kurasakan ketika aku diciduk dulu. Hari itu, 23 November, ulang tahun putraku Gunung yang ke tujuh belas. Pagi-pagi aku hendak ke pasar berbelanja sedikit lebih banyak. Kami sekeluarga sibuk dengan urusan masing-masing.

Sekonyong-konyong suara mesin truk menderu memasuki di jalan depan rumah. Kemudian berhenti di dekat pohon ketapang. Dari balik bilik kulihat orang-orang berbaju hijau di atasnya. “Lari!” teriakku tertahan kepada para anak laki-laki.

Baca Juga:Survei SMRC: 37 Juta Warga Indonesia Percaya PKI Akan Bangkit Lagi

Mereka menghambur keluar lewat pintu belakang dan terjun ke parit. Beberapa pekerja bangunan yang kebetulan lewat cepat menyodorkan perkakas tukang sebagai samaran.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini