Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mendorong Batik jadi Identitas Fesyen Indonesia

Ari Syahril Ramadhan Sabtu, 17 Oktober 2020 | 10:37 WIB

Mendorong Batik jadi Identitas Fesyen Indonesia
Perajin kue menyelesaikan pembuatan kue bolu bermotif batik di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (2/10/2020). [ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal]

Sementara pada Januari hingga Juli 2020, nilai ekspor batik naik 21,54 juta dolar AS (lebih dari Rp318 miliar) dengan tujuan utama ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Sesuai implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0, industri batik dalam negeri diharapkan bisa memadukan warisan budaya dan kearifan lokal dengan teknologi serta cara kerja modern sehingga bisa memberikan nilai tambah pada produknya, juga bisa bersaing pada era Industri 4.0.

Sementara Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif terus mendorong industri batik berinovasi, baik melalui pengembangan ide-ide kreatif maupun pemanfaatan media digital sebagai sarana memasarkan produk. Upaya untuk mengenalkan dan mendorong pemanfaatan teknologi digital bagi industri batik nasional sangatlah penting mengingat pada umumnya perajin batik berusia di atas 45 tahun.

Selain pemberian stimulus melalui program bantuan UMKM di sentra-sentra batik, seperti Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Madura, dan Bali, pengenalan dan mendorong pengusaha batik memanfaatkan teknologi modern sangat perlu agar potensi batik tidak terkubur oleh perkembangan jaman lantaran ketidakefisienan proses produksi.

Adaptasi industri batik terhadap teknologi sangat diperlukan agar produknya bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan cara lebih efisien. Sebagian pelaku usaha yang memanfaatkan platform digital di tengah pandemi Covid-19 telah membuktikan bahwa mereka bisa tetap bertahan di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini.

Meskipun tidak bisa dipungkiri, di sisi lain, pandemi telah membuat 2,1 juta pekerja industri tekstil dan produk tekstil kehilangan pekerjaan, menurut Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) April lalu. Kemudian, banyak perajin batik bermodal di bawah Rp200 juta di Cirebon hingga Pekalongan gulung tikar karena minimnya permintaan.

Satu yang lagi yang tidak kalah pentingnya adalah membuat usaha batik menarik bagi kaum milenial demi keberlanjutan dan kemajuan industri yang sekarang menyerap sekitar 200.000 pekerja ini di masa mendatang.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait