alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Hidupi 4 Anak, Ibu yang Menjadi Pemulung di Tegal Ini Dirikan Rumah Baca

Budi Arista Romadhoni Selasa, 22 Desember 2020 | 14:48 WIB

Hidupi 4 Anak, Ibu yang Menjadi Pemulung di Tegal Ini Dirikan Rumah Baca
Riyani, seorang pemulung mengajari sejumlah anak di rumah baca yang didirikan di rumahnya di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Selasa (22/12/2020). (Suara.com/F Firdaus)

Di tengah hidupnya yang terbilang sulit, Riyani masih memiliki kepedulian terhadap anak-anak di sekitar tempat tinggalnya

"Buku-bukunya saya dapat dari rongsokan. Kalau nemu buku atau alat tulis yang masih bisa dimanfaatkan, saya bawa pulang‎. Jadi ya jumlahnya seadanya, makanya kadang anak-anak berebut buku atau alat tulis," ujarnya.

Riyani mengelola rumah baca di sela mencari barang rongsok di tempat pembuangan sampah. Pekerjaan itu sudah dilakoninya sejak 2005 karena harus membesarkan anak-anaknya sendirian usai sang suami tak bertanggungjawab dan kemudian bercerai.

"Waktu pertama memulung baru punya anak tiga. Waktu itu saya bingung mau kerja apa. Mau mengemis saya tidak punya mental untuk mengemis, akhirnya memulung. Anak yang kecil kadang saya ajak memulung juga,” tuturnya.

Dari menjual barang-barang rongsok yang didapat di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ke pengepul, Riyani biasanya bisa memperoleh uang Rp300‎ ribu dalam sepekan. Namun sejak pandemi Covid-19 merebak, penghasilannya hanya Rp100 ribu dalam sebulan karena harga rongsok anjlok. Belakangan ini, penghasilannya kian berkurang.

Baca Juga: Hari Ibu: Berikut 5 Fakta Menakjubkan yang Hanya Dimiliki Seorang Ibu

"Dulu biasa memulung sampai jam 12 malam. Sekarang sudah mulai mengurangi karena kondisi saya yang sudah tua, kemudian kondisi pandemi dan musim hujan. Memulungnya juga tidak bisa lagi jauh-jauh. Jadi dapatnya lebih sedikit, dalam seminggu dapatnya kurang dari Rp50 ribu," ucapnya.

‎Untungnya, dua di antaranya empat anaknya sudah bekerja setelah lulus SMK. Anak pertama yang berusia 22 tahun berjualan kopi, sedangkan anak kedua yang berusia 18 tahun bekerja di kedai kopi. 

Hal itu disyukuri Riyani. Setidaknya keduanya sudah mulai mandiri dan penghasilannya bisa membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari meski tak besar. 

"Kita itu hidup tidak bisa normal‎ seperti yang lain. Kadang makan sehari satu kali," ujar Riyani.

Kontributor : F Firdaus

Baca Juga: 5 Vaksin untuk Perempuan, Bisa Jadi Inspirasi Kado Hari Ibu

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait