"Dia dijuluki oleh peneliti luar negeri sebagai pengarang berwajah seribu karena dia menulis selalu tidak dengan nama asli. Banyak namanya. Kadang nama Cina, nama Jawa. Selain biografi Soekarno, yang menarik dia juga pernah menulis Mahabharata," ujarnya.
Wijanarto mengatakan, melalui karya sastra, Tan Hong Boen berperan dalam upaya membangun entitas ke-Indonesiaan serta rekonsiliasi di tengah konflik horizontal yang beberapa kali pecah di Tegal pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan.
"Dia tokoh peletak dasar rekonsiliasi ke-Indonesiaan, karena orang peranakan Tionghoa watu itu terbelah. Ada yang ingin gabung Tionghoa, ada yang ingin bergabung Indonesia. Tegal juga punya sejarah kelam sejumlah konflik horizontal, termasuk yang menimpa kelompok peranakan Tionghoa," jelasnya.
Wijanarto mengatakan, sebagai peranakan Tionghoa, Tan Hong Boen justru sangat mengagumi kebudayaan Indonesia, terutama kebudayaan Jawa. Kekaguman ini membuatnya kerap berkelana ke desa-desa.
Baca Juga:Viral Ratna Dewi Istri Presiden Soekarno Nyanyi Sambil Dansa di Usia 82 Tahun, Publik Takjub
Tan Hong Boen memiliki pemikiran, bahwa orang Tonghoa yang lahir atau hidup di Indonesia harus belajar banyak dari kebudayaan Indoneisa, terutama Jawa yang sangat dia kagumi.
"Dia sangat tertarik dengan dunia klenik Jawa, dan pengobatan-pengobatan tradisional, herbal. Itulah yang menjadikannya meracik obat yang sampai saat ini melegenda. Obat itu dibuat untuk semua orang tanpa memandang kasta atau etnis, sehingga dia beri nama Pil Kita. Itu tahun 50-an atau 70-an buatnya,”tuturnya.
Dengan berbagai kontribusinya, Wijanarto menyayangkan nama Tan Hong Boen tak banyak diketahui masyarakat, bahkan oleh pemerintah daerah setempat.
"Sampai sekarang tidak ada penghargaan dari pemerintah daerah. Padahal sejumlah peneliti luar negeri sudah meneliti sosoknya dan menulis riwayat hidupnya," ujarnya.
Kontributor : F Firdaus
Baca Juga:Murid Ini Gambar Presiden Soekarno untuk Tugas Sejarah, Hasilnya Banjir Pujian Publik: Bagus Banget