facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Ini Perbedaan Kecemasan dan Serangan Panik

Budi Arista Romadhoni Kamis, 05 Mei 2022 | 15:46 WIB

Ini Perbedaan Kecemasan dan Serangan Panik
Ilustrasi kecemasan. Kecemasan dan serangan panik, sering diartikan sebagai masalah yang sama, padahal kedua kondisi ini memiliki perbedaan. (pexels/Alex Green)

Kecemasan dan serangan panik, sering diartikan sebagai masalah yang sama, padahal kedua kondisi ini memiliki perbedaan

Terapi bicara untuk gangguan kecemasan dan panik.

Terapi perilaku-kognitif (CBT) dapat membantu melihat hal-hal yang membuat Anda khawatir dengan cara baru. Seorang konselor dapat membantu mengembangkan strategi untuk mengelola pemicu ketika muncul.

Terapi kognitif dapat membantu Anda menentukan, membingkai ulang, dan menetralisir pikiran.

Terapi paparan melibatkan paparan terkontrol terhadap situasi yang memicu ketakutan dan kecemasan, yang dapat membantu Anda belajar menghadapi ketakutan tersebut dengan cara baru.

Baca Juga: Kenali 5 Tipe Defense Mechanism, Kamu Termasuk yang Mana?

Teknik relaksasi termasuk latihan pernapasan, citra terpandu, relaksasi progresif, biofeedback, dan pelatihan autogenik. Dokter Anda dapat berbicara dengan Anda melalui beberapa di antaranya.

Dokter Anda mungkin menyarankan untuk menghadiri sesi individu, sesi kelompok, atau kombinasi keduanya.

Pengobatan

Contoh obat yang mungkin diresepkan oleh dokter Anda adalah antidepresan, seperti inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dan inhibitor reuptake serotonin norepinefrin (SNRI), beta-blocker, yang dapat membantu mengelola beberapa gejala fisik, seperti detak jantung yang cepat.

obat anti-kecemasan, seperti benzodiazepin, obat penenang yang dapat menekan gejala dengan cepat.
Semua obat ini dapat memiliki efek samping.

Baca Juga: Viral Pria ODGJ Tadarus di Masjid, Pakaiannya Tak Layak Tapi Lancar Baca Al-Quran

SSRI dan SNRI adalah untuk penggunaan jangka panjang, dan perlu waktu untuk merasakan efeknya. Benzodiazepin hanya untuk penggunaan jangka pendek, karena ada risiko ketergantungan yang tinggi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait