Kebutuhan Rumah Jateng Capai 990 Ribu Unit, BTN Housingpreneur Batch 3 Buka Peluang Inovasi

Gen Z dan milenial kesulitan beli rumah akibat kenaikan harga tanah yang jauh melampaui pendapatan. BTN Housingpreneur dorong inovasi hunian layak dan terjangkau.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 19 Oktober 2026 | 17:56 WIB
Kebutuhan Rumah Jateng Capai 990 Ribu Unit, BTN Housingpreneur Batch 3 Buka Peluang Inovasi
Suasana roadshow BTN Housingpreneur Batch 3 di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Senin (19/10/2026).
Baca 10 detik
  • BTN Housingpreneur Batch 3 di Universitas Diponegoro Semarang membahas tantangan kepemilikan rumah bagi generasi muda pada Senin, 19 Oktober 2026.
  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat kebutuhan rumah mencapai 990.000 unit di tengah kenaikan harga tanah yang tidak sebanding dengan pendapatan.
  • Kompetisi BTN Housingpreneur Batch 3 mengajak generasi muda menciptakan inovasi hunian terjangkau, berkualitas, dan berkelanjutan hingga 30 November 2026.

SuaraJawaTengah.id - Memiliki rumah sendiri semakin menjadi tantangan bagi generasi muda. Ketika harga tanah disebut meningkat sekitar 10 persen per tahun, kenaikan pendapatan masyarakat justru jauh lebih rendah. Akibatnya, menabung untuk membeli rumah terasa seperti mengejar target yang terus menjauh.

Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam roadshow BTN Housingpreneur Batch 3 di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Senin (19/10/2026). Diskusi bertema Rumah Zaman Now: Jawab Kebutuhan, Wujudkan Kelayakan membahas tantangan ekonomi, perubahan perilaku konsumen, serta kebutuhan hunian bagi generasi Z dan milenial.

Vice Chancellor MarkPlus Institute, Jacky Mussry, menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan harga tanah dan kemampuan masyarakat mengumpulkan uang untuk membeli rumah.

“Pertumbuhaan 700-800 ribu rumah per tahun. Tapi harga tanah makin tinggi, bisa 10 persen per tahun. Padahal kenaikan income orang jauh di bawah. Orang menabung, semakin tidak terkejar membeli rumah. Jadi harus kerja keras, untuk mengatur uangnya,” kata Jacky.

Baca Juga:Viral Surat Pengunduran Diri 'Ora Danta Lu Semua!', Netizen: Bekasi Keras, Bos!

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi generasi muda ketika harus merencanakan pembelian rumah di tengah kenaikan biaya hunian. Persoalannya bukan semata-mata soal kemampuan menabung, tetapi juga seberapa cepat tabungan bertambah dibandingkan kenaikan harga tanah dan rumah.

Jacky menilai lokasi tetap menjadi faktor penting dalam menentukan nilai properti. “Velue itu akan meningkat, lokasi akan sangat menentukan,” ujarnya.

Namun, bagi generasi muda yang baru membangun karier, lokasi strategis juga dapat berarti harga yang lebih sulit dijangkau. Mereka dihadapkan pada pilihan antara membeli hunian yang sesuai kemampuan atau mencari rumah lebih jauh dari pusat aktivitas ekonomi.

Generasi Muda Tak Cukup Ditawari Rumah Murah

Founder SPOA Architecture & Smiljan Space, Rahmat Indrani, menilai konsumen kelas menengah saat ini memiliki karakter yang semakin kritis. Mereka mempunyai daya beli, lebih memahami informasi, dan tidak mudah menerima tawaran produk tanpa pertimbangan.

Baca Juga:Masak-masak Gen Z Olah Produk Fiesta, Wali Kota Solo Ajari Kupas Bawang yang Benar

“Kelas menengah ini spesifik, mereka punya daya beli, pinter dan sudah enggak bisa ditipu-tipu,” kata Rahmat.

Menurutnya, kelompok konsumen ini membutuhkan pendekatan yang berbeda. Pengembang tidak cukup hanya menawarkan bangunan dengan harga tertentu, tetapi juga perlu menjawab kebutuhan penghuni dan kualitas lingkungan tempat tinggal.

Rahmat menyoroti bahwa sebagian masyarakat kelas menengah mulai kesulitan membayangkan kemampuan mereka untuk membeli rumah. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah perumahan belum tentu sebanding dengan kebutuhan maupun daya beli masyarakat.

Karena itu, inovasi perumahan dinilai perlu memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Rumah tidak semestinya hanya dibangun untuk memenuhi target jumlah, tetapi juga menyediakan ruang hijau dan mendukung kualitas hidup penghuninya.

“Dengan tumbuhnya jumlah perumaham tidak sebanding,” ujarnya, menyoroti persoalan pertumbuhan perumahan dan kebutuhan masyarakat.

Rahmat juga mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir dalam membangun hunian. Menurutnya, rumah perlu dirancang dengan mempertimbangkan keberadaan taman dan lingkungan alam agar pembangunan tidak mengorbankan kualitas lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak