- Ribuan mahasiswa dari BEM Semarang Raya berunjuk rasa di Kantor Gubernur Jateng pada Kamis, 22 Oktober 2026.
- Massa aksi mendesak pemerintah memenuhi lima tuntutan utama, termasuk stabilisasi harga kebutuhan pokok dan pemberantasan KKN.
- Kapolda Jawa Tengah menemui peserta aksi sementara aparat gabungan bersiaga untuk mengamankan jalannya demonstrasi tersebut.
SuaraJawaTengah.id - Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM Semarang Raya menggelar aksi unjuk rasa memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (22/10/2026).
Mereka menyuarakan lima tuntutan, mulai dari stabilisasi harga kebutuhan pokok hingga pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Perwakilan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Semarang, Ramanda Bima Prayuda, mengatakan aksi tersebut membawa aspirasi masyarakat Indonesia, bukan hanya kepentingan mahasiswa di Semarang atau Jawa Tengah.
“Kami bukan bicara sebagai Kota Semarang ataupun Jawa Tengah. Kami mewakili aspirasi dari rakyat Indonesia,” kata Bima di lokasi aksi melansir Ayosemarang--jaringan Suara.com.
Baca Juga:Dari Loper Koran hingga Doktor, Cerita Arief Tuntaskan Disertasi Sambil Jaga Ibu di Rumah Sakit
Lima tuntutan yang disampaikan mahasiswa meliputi stabilisasi harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM), pengembalian TNI dan Polri pada fungsi utamanya, evaluasi proyek strategis nasional (PSN), pengembalian hak atas tanah kepada rakyat serta pemulihan wilayah terdampak bencana, dan penghentian praktik KKN di lingkungan pemerintahan.
Menurut Bima, seluruh tuntutan tersebut merupakan hasil konsolidasi mahasiswa di tingkat daerah hingga nasional.
Ia menilai aspirasi yang sebelumnya disampaikan belum mendapat penyelesaian sesuai harapan sehingga mahasiswa kembali mendesak pemerintah mengambil langkah konkret.
Bima memperkirakan sekitar 2.000 orang dari berbagai elemen mahasiswa dan perguruan tinggi mengikuti aksi tersebut. Ia menyebut sejumlah kampus yang terlibat, antara lain Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Semarang (USM), dan Politeknik Negeri Semarang (Polines).
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB itu berlanjut hingga malam. Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan sempat menemui mahasiswa untuk berdialog dan mengimbau mereka menjaga ketertiban.
Baca Juga:'Kalian Anak Saya!' Aksi Spontan Gubernur Ahmad Luthfi Datangi Kos Mahasiswa NTT Bikin Haru
Hingga pukul 18.30 WIB, sebagian massa masih bertahan di kawasan Jalan Pahlawan. Ketika polisi membuka akses jalan bagi kendaraan, sejumlah mahasiswa berulang kali berupaya memblokade jalur tersebut, sementara petugas berusaha mencegahnya.
Bima mengatakan aksi di Semarang juga dimaksudkan untuk menyambung gerakan mahasiswa di Jakarta pada 20 Oktober 2026. Mahasiswa, lanjut dia, berencana kembali menyuarakan tuntutan pada momentum Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober mendatang.
Sementara itu, Polrestabes Semarang bersama Polda Jawa Tengah, TNI, dan instansi terkait menyiagakan 2.901 personel gabungan untuk mengamankan aksi di sejumlah titik strategis. Kasihumas Polrestabes Semarang Kompol Sugito mengatakan pengamanan dilakukan dengan mengedepankan komunikasi, negosiasi, dan pendekatan humanis.
Polisi mengimbau peserta aksi menyampaikan pendapat secara damai, mematuhi ketentuan yang berlaku, serta tidak melakukan perusakan fasilitas umum.
Mahasiswa menyatakan akan terus menyuarakan tuntutan mereka dan meminta pemerintah membuka ruang dialog serta memberikan respons konkret terhadap persoalan yang disampaikan.