SuaraJawaTengah.id - Sosok Puger Waluyo (45) seorang juru parkir yang merawat puluhan anak yang hidup dengan HIV/Aids (Adha), ternyata tidak begitu saja bisa mendapatkan tempat singgah. Ia harus melewati jalan yang terjal sebelum akhirnya ada pihak-pihak yang peduli terhadap keberadaan Adha.
Ketika kali pertama merawat Adha, Puger harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Ia bawa seorang bayi yang sudah positif HIV/Aids untuk dirawat di tempat yang sudah disewanya. Ia bersama rekan-rekan sesama relawan, begitu telaten merawat setiap Adha.
Hingga jumlah Adha yang dirawatnya terus bertambah. Pada 2013 jumlah Adha yang dirawat bahkan mencapai belasan anak. Tentunya, Puger yang juga pengelola Yayasan Lentera juga harus mencari tempat yang lebih luas.
Mencari tempat ini bukan hal yang mudah. Mengingat, tidak semua orang bisa menerima keberadaan Adha. Maka dari itu, tidak ada cara lain selain dengan sembunyi-sembunyi. Meski sudah bersembunyi, keberadaan Puger bersama belasan Adha juga sering diketahui warga.
Baca Juga: Puger, Juru Parkir Telaten Rawat Anak yang Hidup Dengan HIV/Aids
"Kami sering diusir, dihina, dan tidak bisa diterima di masyarakat. Kami juga harus pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Karena tidak semua bisa menerima keberadaan Adha," terang Puger kepada Suara.com, Selasa (9/2/7/2019).
Meski mendapatkan perlakuan yang tidak baik, tetapi Puger menganggap sebagai hal yang wajar. Ia sadar benar, bahwa warga yang memperlakukan para Adha tidak baik lantaran kurang paham mengenai kondisi mereka.
Sehingga, mereka pun seakan takut atau khawatir akan tertular virus mematikan tersebut.
"Ya mungkin mereka tidak paham dengan kondisi Adha. Dan saya terus berusaha untuk mencari tempat untuk menampung para Adha," katanya.
Berita mengenai pengusiran para Adha pun dengan cepat menyebar. Pemkot Solo pun akhirnya berinisiatif untuk mencarikan lokasi untuk menampung Adha.
Baca Juga: Meninggal karena AIDS, Ternyata Pria Ini Sudah Pacari 40 Wanita
Akan tetapi, upaya tersebut tidak mudah. Karena, banyak masyarakat yang langsung menolak saat mengetahui kawasan rumahnya akan akan digunakan sebagai tempat untuk menampung Adha.
Hingga akhirnya, ada Corporate Social Responsibility (CSR) dari Lotte pada tahun 2016 lalu. Dengan CSR tersebut dibangunlah sebuah rumah singgah di lahan kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Jurug. Rumah singgah tersebut bernama Selter Adha.
Kontributor : Ari Purnomo
Berita Terkait
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
-
Klasemen Terbaru: Timnas Indonesia U-17 Selangkah Lagi Lolos Piala Dunia U-17
Terkini
-
Jangan Paksakan ke Rest Area saat Arus Balik, Ini Tips Istirahat Aman dan Nyaman dari Kapolri
-
Tak Hanya THR, Desa Wunut Tunjukkan Kepedulian Nyata Lewat Jaminan Sosial
-
Nikmati Libur Lebaran, Ribuan Wisatawan dari Berbagai Daerah Ramaikan Saloka Theme Park
-
Viral Tarian Bagi-bagi THR Diduga Tarian Yahudi? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Kenapa Banyak yang Menikah di Bulan Syawal? Ini Jawabannya