"Kami semua bekerja kalau siang, ibu jalan-jalan sudah biasa. Hanya kami memang orang miskin. Jadi pakaian seadanya, dikira gelandangan jalanan," tuturnya.
Aktivitas Ngatini yang dikira gelandangan pernah kepergok Satpol PP, Ngatini diciduk dan dibawa ke Panti Sosial Kota Semarang karena dikira gelandangan.
"Pernah kena razia, karena perginya ke jalan protokol, dibawa ke Panti Sosial. Tapi kami jemput kembali," katanya.
Ketua RT 02 RW 4 Kelurahan Gabahan, Sugianto (42) menyatakan jika Ngatini benar sebagai warganya. Terdaftar sebagai warga miskin, dan mengantongi Kartu Miskin, sebagai 'surat sakti' untuk pengurusan apa saja.
"Kalau KIS saya rasa punya, karena ada program UHC dari Pemkot Semarang, beras raskin sedang kami usahakan dapat jatah tahun depan," kata Sugianto, saat ditemui di rumahnya.
Sugianto sebenarnya berharap keluarga Sutejo mau mengurus Kartu Indonesia Pintar, agar anak atau cucu Ngatini, Kurniawan, bisa sekolah.
"Kasihan cucunya, tidak sekolah karena berkebutuhan khusus. Bisa masuk SLB, yang penting mengenyam pendidikan," tuturnya.
Aktifitas Ngatini yang gemar 'mengembara' juga diakui Sugianto, namun semua warga Kelurahan Gabahan sudah paham dan maklum. Menurutnya, hanya Sutejo saja yang bisa membujuk Ngatini untuk pulang jika berlama-lama ada di jalanan.
"Sudah sepuh, tapi masih terlihat sehat, jalannya pakai tongkat dan suka bawa buntalan," katanya.
Baca Juga: Kementerian PUPR Renovasi 1.048 Rumah Warga Miskin di Depok
Banyak yang mengira Ngatini adalah orang yang terganggu kejiwaannya karena penampilannya saat jalan-jalan. Namun Sugianto menolak, itu karena usia yang uzur dan penampilan yang lusuh.
Ngatini, kata Sugianto, juga hanya mau berkomunikasi dengan orang yang dikenalnya saja. Maka dari itu, tiap dia bepergian tak banyak bicara atau tak menyahuti setiap orang yang mengajak bicara.
"Tiap singgah selalu tiduran, banyak yang mengira pengemis atau orang gila, warga yang melintas biasa ngasih uang tapi Mbah Ngat tidak pernah meminta-minta," tambah Erik, salah satu warga.
Terpisah, Sekretaris Dinas Sosial Jawa Tengah Yusadar Armunanto menyatakan jika Ngatini dan keluarganya sudah dibujuk untuk menghuni Panti Sosial milik Pemprov Jateng. Dinas Sosial sudah mendatangi rumah Ngatini, memastikan kondisinya baik-baik saja paska viral videonya beredar di medsos.
"Tapi anaknya, Sutejo, tidak mau, katanya masih bisa ngopeni (merawat) ibunya. Padahal kami punya Panti Sosial bagi warga yang memang berkehendak dirawat oleh negara," kata Yusadar.
Namun begitu, pihaknya terbuka jika suatu saat Ngatini atau keluarganya berkeinginan untuk dirawat di Panti Sosial Pemprov Jateng.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama