SuaraJawaTengah.id - Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Kota Solo meresahkan pemulung. Mereka mengaku takut kehilangan pekerjaan yang dilakoninya selama ini, jika proyek tersebut teraksana.
Koordinator Pemulung TPA Putri Cempo Suparno mengungkapkan kekhawatiran tersebut lantaran takut tidak ada sampah untuk dipilah dan dijual kembali. Suparno menjelaskan, terdapat 200-an pemulung di area Putri Cempo yang terdiri dari 60 persen Warga Solo dan 40 persen Warga Karanganyar.
“Kami sudah berdiskusi kepada Wali Kota [Solo] mengenai masa depan kami. Wali Kota bilangnya iya saja. Untuk merekrut kami sebagai karyawan PLTSa,” katanya kepada Solopos.com-jaringan Suara.com saat menghadiri pengukuhan pengurus Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) koordinator wilayah (Korwil) Solo 2019-2022 di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Solo pada Jumat (29/11/2019).
Dia mengemukakan, mayoritas pemulung sudah berusia 40-50 tahun, sementara PLTSa membutuhkan proses pelaksanaan sehingga para pemulung yang bekerja sudah mendekati masa pensiun.
“Mayoritas pemulung sudah berkeluarga. Kami sudah pensiun enggak mungkin menjadi karyawan,” ujarnya.
Keluhan dan kekhawatiran pemulung tersebut sudah diterima Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo.
Perwakilan DLH Solo Bany berjanji segera menyampaikan masukan tersebut ke pihak terkait. Sementara itu, Ketua Umum IPI Pris Polly D Lengkong mengemukakan kapasitas PLTsa di Solo tidak terlalu besar. Lantaran itu, ia menyarankan Pemkot Solo mendahulukan pengolahan tumpukan sampah lama.
“Sampah yang sudah menumpuk waste to energi dulu. Sehingga sampah lama dimusnahkan akan lebih bagus. Sampah baru memiliki ekonomis yang tinggi,” katanya.
Sedangkan Solid Waste Management Specialist Sustainable Waste Indonesia, Rangga Akib, memberikan saran kepada Pemkot Solo untuk membiarkan pemulung menyortir sampah sebelum diproses di PLTSa.
Baca Juga: Darurat Sampah, Indonesia Butuh PLTSA Segera
“Kalau bisa kawan-kawan pemulung dibolehkan menyortir sampah. Mereka yang tahu butuhnya apa. Tetapi proses PLTSa membutuhkan tonase tertentu,” ungkapnya.
Lebih jauh, Rangga menawarkan konsep sirkular ekonomi untuk pelaksanaan PLTSa. Konsep tersebut merupakan upaya menjaga sumber daya yang dipakai selama mungkin dan mendaur ulang sumber daya tersebut.
“Kalau semua dibakar sayang. Plastik memiliki nilai ekonomi tinggi yang terbuat dari minyak bumi. Minyak bumi bisa habis juga kan,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Tragedi Gunung Slamet: Syafiq Ali Ditemukan Tewas Setelah 16 Hari Pencarian Dramatis
-
Sebelum Dipulangkan Syafiq Ali Pendaki Hilang di Gunung Slamet akan Diautopsi di Pemalang
-
9 Fakta Mengerikan di Balik Kerusuhan Iran: Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap, dan Ancaman Militer AS
-
Suzuki Karimun 2015 vs Kia Visto 2003: Pilih yang Lebih Worth It Dibeli?
-
Banjir Lumpuhkan SPBU Kudus, Pertamina Patra Niaga Sigap Alihkan Suplai BBM Demi Layanan Optimal