SuaraJawaTengah.id - Bupati Wonogiri Joko Sutopo menilai kebijakan pelonggaran transportasi umum saat wabah corona masih meningkat di Indonesia, lucu.
Meskipun kebijakan tersebut diperuntukkan bagi penumpang yang mempunyai persyaratan khusus, menurut dia, aturan tersebut menimbulkan spekulasi dan pemahaman yang berbeda di kalangan masyarakat.
Dalam menjalankan kebijakan tersebut sangat dimungkinkan akan terjadi kendala atau kesulitan dalam hal pengawasan warga yang melakukan perjalanan.
“Ada warga dari Jakarta pergi keluar kota dengan membuat surat pernyataan pergi selama tiga hari. Setelah orang tersebut sampai daerah tujuan, siapa yang mau mengawasi keberadaannya? Apakah aparat mampu mengawasi satu orang selama tiga hari tersebut? Aturan ini lucu,” kata dia kepada Solopos.com (jaringan Suara.com), Rabu (13/5/2020).
Menurut dia, Sumber Daya Manusia (SDM) dan aparat yang dimiliki sangat terbatas jika harus mengontrol seseorang yang melakukan perjalanan keluar daerah. Sementara itu jika tidak ada pengawasan atau kontrol dari salah satu pihak, berarti kebijakan tersebut rentan penyalahgunaan.
Jika aparat disibukkan dengan urusan seperti itu, lanjut dia, hanya akan menguras energi di tengah situasi pendemi Covid-19. Terlebih di Wonogiri, dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang ada, aparat atau petugas tidak akan mampu melakukan pengawasan secara intensif terhadap pelaku perjalanan. Ketersediaan SDM lebih baik difokuskan untuk upaya pencegahan persebaran Covid-19.
“Jika memang ada ketegasan mudik dilarang, seharusnya moda transportasi umum diberhentikan. Karena itu yang realistis, jangan sampai kebijakan yang dikeluarkan saat ini justru memunculkan spekulasi dan reaksi di kalangan masyarakat,” tutur pria yang akrab disapa jekek tersebut.
Bupati Wonogiri berharap instansi yang mengeluarkan rekomendasi kebijakan pelonggaran moda transportasi itu bisa memberi pemahaman kepada masyarakat secara utuh. Selain itu kebijakan yang dikeluarkan diharapkan tidak menimbulkan spekulasi dan reaksi di kalangan masyarakat.
Dalam merespon swarga Wonogiri yang mudik, kebijakan Pemkab Wonogiri tidak berubah. Pemerintah tetap menerima dan mempersilahkan warga yang mudik, tetapi diberikan ruang khusus. Artinya warga yang mudik ke Wonogiri harus mentaati dan menjalankan protkol kesehatan dalam upaya mencegah persebaran Covid-19.
Baca Juga: Bupati Wonogiri Tidak Tolak Pemudik Selama Wabah Corona
“Selama ini kan mereka membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran dengan cara mencari pekerjaan di luar daerah. Jagan sampai di saat mereka mengalami situasi sulit seperti saat ini, secara sepihak diperlakukan kurang baik, ditolak maupun dikucilkan di wilayahnya sendiri. Mereka akan tetap kami terima,” kata Jekek.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
- Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
-
Harga Minyak Mulai Turun Usai Beredar Kabar G7 Lepas Cadangan 400 Juta Barel
-
Rusia Kasih Data Aset Militer AS ke Iran untuk Dihancurkan, Termasuk Lokasi Kapal dan Jet Tempur
Terkini
-
Peringatan Keras Gubernur Luthfi untuk Kepala Daerah, OTT KPK Cukup Pati dan Pekalongan!
-
Pengusaha dan Pelindo Antisipasi Kepadatan Logistik Jelang Lebaran Meningkat
-
Jawa Tengah Bersiap Sambut 'Serbuan' Pemudik Lebaran 2026: Antara Kerinduan dan Kesiapan Darurat
-
Semen Gresik Gelar Berkah Ramadan Bersama Masyarakat Enam Desa di Rembang dan Blora
-
Buka Puasa Makin Seru, Transaksi QRIS BRImo di Kenangan Brands Dapat Cashback 40%