Scroll untuk membaca artikel
Chandra Iswinarno
Senin, 18 Mei 2020 | 15:04 WIB
Maulana Arif Budi Satrio. [Suara.com/Rara Puspita]

SuaraJawaTengah.id - Maulana Arif Budi Satrio (38) yang akrab disapa Rio nekat pulang kampung dari kawasan Cibubur, Jakarta menuju kampung halamannya di Kota Solo dengan berjalan kaki. Dia terpaksa menempuh perjalanan ini karena sudah tidak memiliki harapan hidup di ibukota.

Rio yang berprofesi sebagai sopir bus pariwisata, terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 8 Mei 2020 silam. Bersama teman-temannya, dia diberhentikan tanpa mendapat pesangon, gaji maupun tunjangan hari raya (THR).

"Saya berpikir mau ke mana lagi? Sementara kontrakan saya sudah saya berikan ke tetangga depan rumah. Saya mau tidur di mana?" katanya saat berada di Lokasi Karantina Grha Wisata, Solo pada Senin (18/5/2020).

Rio mengaku iba dengan kondisi tetangganya yang merupakan pasangan suami istri dan keduanya juga terkena PHK saat pandemi Covid-19.

Baca Juga: Pilu, Demi Teman Tetap Kerja, Pemuda Rela di-PHK sampai Harus Gadai Kamera

"Sebenarnya kontrakan saya masih sampai Juni. Tapi saya kasihan karena mereka punya anak kecil. Akhirnya saya kasih kontrakan saya ke mereka," ucapnya.

Rio memutuskan kembali ke kampung halamannya di Jalan Pasar Gede Wetan no 11 RT 2/RW 9, Sudiroprajan. Rencana semula, Rio akan pulang dengan bus. Namun, dia membatalkan karena ternyata armada yang tersedia minibus.

"Saya nggak mau. Tiketnya harga Rp 500 ribu. Tapi janjinya pakai bus yang datang Elf," katanya.

Lalu, dia mencoba menggunakan kendaraan pribadi. Tapi sampai Cikarang, Jawa Barat dia diminta kembali. Akhirnya dia kembali ke rumah, sembari berpikir cara pulang ke Solo. Sebab, Rio sudah tidak bisa bertahan dengan uang yang tersisa hanya Rp 400 ribu.

"Kalau tetap tinggal di Jakarta saya hanya bertahan lima hari saja. Makanya saya memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki," ucapnya.

Baca Juga: Korban PHK Positif Corona, Meninggal saat Mudik Jalan Kaki 372 Km

Berangkat dari rumah tanggal 11 Mei 2020 pukul 05.00 WIB. Perjalanan ditempuh Rio selama empat hari lima malam. Selama perjalanan itu dirinya hanya beristirahat saat sudah kelelahan.

"Saya tetap puasa. Biasanya saya berhenti dini hari dan istirahat, lalu saya lanjut jalan lagi jam 6 pagi," ucapnya.

Selama menempuh perjalanan, dirinya berhenti di beberapa tempat. Diantaranya Cikarang, Tanjung Pura, Karawang dan Klari, Karawang.

"Pokoknya kalau capai saya istirahat," ucapnya.

Setelah sampai di Gringsing, kabupaten Batang Rio dijemput kawan-kawannya dari Pengemudi Pariwisata Indonesia (Peparindo). Awalnya, dia tidak memberitahukan pada kawannya terkait dirinya yang pulang dengan berjalan kaki. Namun, dia terpaksa memberi tahu salah satu temannya karena kesulitan memasuki Jawa Tengah.

"Saya terpaksa bilang pada Ketua Peparindo karena saya kesulitan melalui perbatasan," ucapnya.

Bersama kawan Peparindo, dia diajak untuk istirahat di Semarang. Setelah istirahat beberapa saat dan mandi serta makan, dirinya diantar ke Grha Wisata, Solo.

"Saya sampai di Grha Wisata pada 15 Mei jam 08.00 WIB pagi," ucapnya.

Totalnya dia menempuh perjalanan ini selama empat hari, berjalan dari Cibubur, Jakarta Timur sampai Gringsing, Batang.

"Berarti tiap hari rata-rata saya jalan kaki 100 kilometer," ucapnya.

Saat ini Rio hanya ingin menyelesaikan karantina di Grha Wisata dan kembali pulang. Untuk bekerja kembali, dia hanya menunggu kebijakan pemerintah pusat.

"Saya juga berharap pemerintah provinsi, khususnya Pak Ganjar, bisa menolong warga Jawa Tengah yang ada di Jakarta. Sebab mereka sudah tidak punya harapan lagi," ucapnya.

Kontributor : Rara Puspita

Load More