SuaraJawaTengah.id - Perasaan sedih dan terisolasi karena pandemi Covid-19 disebut membuat tingkat depresi meningkat.
Hal ini dibuktikan oleh studi yang diterbitkan di JAMA Network Open, yang menyebut bahwa tingkat depresi masyarakat terus melonjak saat ini.
Diperkirakan kenaikan mencapai tiga kali lebih banyak di seluruh dunia yang diagnosis depresi selama pandemi dari pada sebelumnya, lanjut penelitian tersebut.
Sebuah survei menemukan bahwa 8,5 persen dari mereka menunjukkan tanda-tanda depresi yang cukup kuat. Gejala yang ditunjukkan antara lain merasa sedih atau putus asa, kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya membawa kegembiraan, energi rendah, kesulitan berkonsentrasi, atau memikirkan diri sendiri dan melakukan tindakan membahayakan.
Ketika para peneliti mensurvei hampir 1.500 orang dewasa Amerika tentang kesehatan mental mereka dari Maret hingga April tahun ini, angka itu meningkat menjadi hampir 28 persen. Bahkan lebih banyak orang - ampir 25 persen tambahan- menunjukkan tanda-tanda depresi yang lebih ringan.
Logikanya, orang lebih mungkin mengalami gejala depresi selama pandemi jika mereka mengalami penyebab stres Covid-19, termasuk kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai, atau kesulitan keuangan.
Sesuai penelitian juga dengan tren demografis, bahwa perempuan lebih mungkin mengalami depresi dari pada lelaki, dan orang lajang lebih mungkin mengalami depresi dari pada pasangan yang sudah menikah.
Tetapi tren hanya berjalan sejauh ini. Siapa pun - terlepas dari ras, jenis kelamin, status hubungan, atau pendapatan - dapat mengalami masalah kesehatan mental selama sesuatu yang traumatis seperti pandemi.
Namun hal itu bisa ditangani oleh diri sendiri dengan melakukan perubahan gaya hidup ideal. Cukup tidur dan olahraga sangat membantu, dan penelitian telah menunjukkan bahwa meditasi dan yoga dapat memiliki efek positif pada kesejahteraan psikologis.
Baca Juga: Tak Takut Covid-19, Sekelompok Bocah Asik Berenang di Kalimalang
Dukungan sosial juga sangat penting, bahkan jika itu terjadi secara virtual bersama keluarga, kerabat dan pasangan selama pandemi Covid-19.
Berita Terkait
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu Memilih Salah Satunya?
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
5 Shio yang Paling Rentan Stres dan Masalah Kesehatan Mental
-
Apa Itu Mindfulness? Bukan Memaksa Diri Selalu Berpikir Positif, Ini Penjelasannya
-
Gubsu Bobby Nasution Minta Publik Hentikan Komentar Negatif terhadap Korban MBG di Karo
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- 3 Fakta Gila Usai Persib Bandung Kalahkan FC Seoul: Tumbangkan Ranking 26 Asia
Pilihan
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
Terkini
-
Warga Jateng Wajib Tahu! Pemprov Bebaskan Denda Pajak dan Pajak Progresif, Ini Jadwalnya
-
Dana Investor Miliaran Dipersoalkan, Proyek Perumahan Syariah Berujung Laporan Terhadap Oknum Dosen
-
BRI Kian Aktif Dorong Program 3 Juta Rumah Lewat Penguatan Ekosistem Perumahan
-
Candi Gedong Songo Jadi Sorotan, Titik Bor PLTP Gunung Ungaran Belum Ditentukan
-
Kasus Jasad Bayi di Bandungan Jadi Alarm Keras, Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Pergaulan Remaja