SuaraJawaTengah.id - Tren wisata perlahan bergeser tidak lagi hanya menawarkan atraksi namun juga edukasi. Wisatawan memburu pengalaman ikut merasai dan terlibat dalam kegiatan masyarakat.
Peluang wisata itu yang ditangkap sanggar Rumah Batik Lumbini, di kawasan wisata Candi Borobudur. Mereka menawarkan pengalaman membatik bagi wisatawan yang berkunjung ke candi.
“Kegiatan Batik Lumbini yang pertama memang memproduksi kecil-kecilan. Yang kedua menerima tamu untuk edukasi. Entah wisatawan, atau anak-anak sekolah di sekitar Magelang. Kami tawarkan paket edukasi,” kata pemilik Rumah Batik Lumbini Adi Winarto pada Minggu (11/10/2020).
Adi mengaku Rumah Batik Lumbini rata-rata menerima 1.000 tamu setiap bulan. Mereka menerima tamu bekerja sama dengan Amanjiwo dan Manohara Resort.
“Biasanya para tamu dari kedua penginapan itu diantar ke sanggar atau kami diundang ke sana untuk mengajari para tamu membatik.”
Sebagai perajin yang menawarkan paket wisata edukasi, Rumah Batik Lumbini juga merasa perlu memperkenalkan proses membatik yang ramah lingkungan.
Meski masih menggunakan sedikit pewarna sintetis, Batik Lumbini mulai mengaplikasikan pewarna alami dalam proses produksi. Terdapat 20 jenis tanaman disekitar sanggar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami.
“Warna alami kami ambil antara lain dari pengolahan bunga srigading dan kelang. Kemudian dari daun mangga, daun ketepeng, biji sombo, kulit buah rambutan, dan kulit mahoni. Semuanya ada di sekitar sanggar.”
Karena menggunakan pewarna alami, sanggar yang berdiri sejak tahun 2011 juga tidak dapat memproduksi batik dalam jumlah banyak. Untuk membuat selembar kain batik tulis berukuran 2,5 x 1 meter, dibutuhkan waktu pembuatan sekitar 2 minggu.
Baca Juga: Batik Bermotif Virus Corona
Batik tulis misalnya, harus melalui 20 kali pencelupan warna dan pelukisan yang bertahap. Beberapa jenis bunga yang dijadikan bahan pewarnaan harus melalui proses fermentasi, sehingga proses produksi semakin lama.
"Untuk batik cap kita hanya bisa produksi 5 sampai 10 lembar kain setiap hari. Kita jual Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Untuk batik tulis Rp 800 ribu sampai Rp 3 juta," ujar Adi.
Sebagai upaya turut melestarikan lingkungan, sanggar Rumah Batik Lumbini menyiapkan kegiatan menanam pohon gayam. Menurut Adi, proses membatik membutuhkan banyak air yang yang ketersediaanya bergantung pada resapan akar pohon.
“Sedangkan sekarang pohon-pohon di sekitar Borobudur kan bisa dilihat sendiri (banyak berkurang karena) banyak hotel. Kalau kita tidak peduli sedikit-sedikit, kapan kita akan punya ketahanan air,” ujar Adi.
Pandemi Covid 19 berdampak pada usaha Rumah Batik Lumbini. Anjloknya jumlah wisatawan ke Borobudur berdampak pada jumlah pengunjung dan konsumen yang datang ke sanggar ini.
Tiga bulan pertama pandemi Covid-19 sekitar Maret-Juni 2020, Rumah Batik sama sekali tidak mendapat kunjungan wisatawan. Sebanyak 15 pekerja yang berasal dari warga sekitar sanggar, terpaksa dirumahkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Terkini
-
Puncak Arus Mudik Dimulai! 2.390 Mobil per Jam 'Serbu' Semarang via Tol Kalikangkung
-
Murka! Ahmad Luthfi Soal OTT KPK Cilacap: Integritas Itu Perbuatan, Bukan Cuma di Mulut
-
Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS, PBNU: Ini Premanisme Politik!
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Lanjutan Sidang PT Sritex: Saksi Tegaskan Pengajuan Kredit Sesuai Mekanisme Internal Bank