SuaraJawaTengah.id - Terdapat 2.000 informasi palsu atau hoaks yang terjadi pada tahun 2020, baik itu isu Covid-19, politik, ataupun sosial. Jumlah kenaikan peredaran berita hoaks di Indonesia juga mempengaruhi kenaikan jumlah pengguna media sosial.
Direktur Komunikasi WhatsApp APAC, Sravanthi Dev mengatakan, WhatsApp telah memblokir 2 juta akun demi cegah hoaks. Akun-akun yang sudah diblokir WhatsApp ini tidak akan bisa digunakan kembali.
"Pemblokiran akun tersebut bersifat permanen, artinya mereka tidak bisa menggunakan akun yang sama. Mereka harus buat akun baru untuk kembali menggunakan WhatsApp," jelas Sravanthi dalam konferensi pers virtual, Kamis (19/11/2020).
Sravanthi menjelaskan, pada dasarnya WhatsApp adalah platform percakapan yang bersifat personal. Menurutnya, WhatsApp tidak dirancang untuk layanan broadcast messages (pesan siaran) ke berbagai lawan bicara.
"Meskipun ada grup, kami mencatat bahwa rata-rata anggota grup WhatsApp sangatlah sedikit, jumlahnya di bawah sepuluh orang," jelas Sravanthi dalam konferensi pers virtual, Kamis (19/11/2020).
Selain itu, pencegahan hoaks juga dilakukan lewat fitur machine learning yang mengidentifikasi akun-akun penyebar pesan secara massal. Dengan mesin ini, WhatsApp akan menerima serta memproses laporan akun tersebut beserta laporan pemblokiran dari pengguna.
Sravanthi memaparkan, pencegahan beredarnya hoaks lewat WhatsApp juga dilakukan lewat pembatasan pesan. Apabila ada akun yang menyebarkan pesan dari pengguna lain, maka WhatsApp akan melabeli pesan tersebut sebagai Pesan Diteruskan.
Ia menambahkan, label tersebut juga memiliki dua ikon sebagai penanda. Apabila pesan yang diteruskan baru disebar satu kali, maka ikon tersebut menampilkan panah tunggal. Sedangkan untuk pesan yang sudah diteruskan berkali-kali, WhatsApp melabeli chat tersebut dengan panah ganda.
"Akun tersebut juga dibatasi untuk menyebarkan pesan. Merek hanya bisa mengirim lima pesan yang diteruskan, baik itu secara personal maupun lewat grup," tambah Sravanthi.
Baca Juga: Pengguna WhatsApp Kini Bisa Kirim Pesan yang Otomatis Hilang Setelah 7 Hari
Dengan pembatasan ini, Sravanthi menyebut bahwa penyebaran hoaks bisa menurun hingga 70 persen.
"WhatsApp sangat berkomitmen memberantas isu disinformasi yang marak. Inilah sebabnya kami terus-menerus memperbarui produk kami guna berkontribusi terhadap tantangan sosial ini," pungkasnya.
"WhatsApp sangat berkomitmen memberantas isu disinformasi yang marak. Inilah sebabnya kami terus-menerus memperbarui produk kami guna berkontribusi terhadap tantangan sosial ini," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
Deretan Kontroversi Kebijakan Bupati Pati Sudewo Sebelum Berakhir di Tangan KPK
-
OTT KPK di Pati: 6 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan yang Sudah Lama Dibisikkan Warga
-
7 Kontroversi Bupati Pati Sudewo Sebelum Kena OTT KPK, Pernah Picu Amarah Warga
-
Bupati Pati Sudewo Diciduk KPK! Operasi Senyap di Jawa Tengah Seret Orang Nomor Satu
-
Uji Coba Persiapan Kompetisi EPA, Kendal Tornado FC Youth Kalahkan FC Bekasi City