SuaraJawaTengah.id - Harga kedelai impor di pasaran tengah melambung tinggi. Hal tersebut tentu saja berimbas pada perajin tempe mendoan di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, yang menggunakan bahan baku dari kedelai impor dari Amerika.
Masih ditambah rencana pemerintah menerapkan kebijakan PSBB Jawa-Bali. Dipastikan keadaan ekonomi akan semakin terpuruk.
Hal ini diungkapkan Wasis Utomo (32), salah satu perajin tempe di RT 06 RW 06 Desa Pliken. Ia merasakan kenaikan harga kedelai sejak pertengahan Bulan Desember tahun lalu.
"Wah, luar biasa waktu awal naik itu. Sangat berpengaruh ke penjualan. Tempe mendoan yang biasanya habis dalam satu hari, hanya laku 35 persen saja. Jadi saya pulang sisa sekitar 65 persen," katanya saat ditemui, Kamis (7/1/2021).
Pada hari-hari biasanya, ia mampu membuat 47 kilogram tempe mendoan. Namun sejak saat awal kenaikan harga kedelai dirinya mengurangi stok pembuatan tempe mendoan. Karena mengurangi kualitas bahan bukan menjadi pilihannya.
"Saya mending menaikkan harga daripada mengurangi kualitas. Jadi awalnya sangat berpengaruh karena pada kaget harganya naik. Tapi pelan-pelan saya kasih pengertian akhirnya mereka mau menerima," jelasnya.
Sewaktu pertengahan Bulan Desember, dirinya sempat pusing karena penjualannya menurun drastis. Oleh sebab itu, ia mengurangi stok pembuatan dalam sehari yang biasanya mencapai 47 kilogram menjadi setengahnya.
"Saya kan jualnya langsung di drop ke pasar tradisional, terus juga warung-warung pinggir jalan. Nah, banyak yang mengeluhkan kenaikan harga tempe mendoan saya. Tapi saya tidak mau menurunkan kualitas tapi harga sama. Lebih baik saya naikkan harga dengan kualitas yang terjaga," tuturnya.
Sebelum mengalami kenaikan, ia biasanya menjual tempe mendoan dengan harga Rp 3000 per sepuluh ikat dengan ukuran kecil dan Rp 4000 per sepuluh ikat ukuran besar. Kini produknya mengalami kenaikan harga Rp 500 per masing-masing ukuran.
Baca Juga: Unik! Biar Tidak Tertular Covid-19, Pria Ini Tutup Rumahnya dengan Seng
"Saya naikkan sekarang jadi Rp 3500 ukuran kecil dan Rp 4500 ukuran besar. Pelanggan saya sudah mau menerima itu karena memang bahan bakunya naik," terangnya.
Ia berharap pemerintah dapat menyetabilkan harga kedelai impor lagi agar dirinya bersama perajin lain dapat kembali menormalkan harga tempe mendoan. Karena sepengalamannya, ketika harga naik, turunnya lagi bakal lama.
"Kalau sudah naik biasanya turunnya lama. Otomatis saya juga menyesuaikan harganya. Tapi kalau harga sudah turun, saya bakal kembali menurunkan harga seperti biasanya," lanjutnya.
Kini para perajin tempe mendoan di Desa Pliken, harus mengalami dua kali derita. Karena selain harga kedelai yang naik, penjualannya juga terpengaruh adanya pandemi.
"Memang harga kedelai naik sangat menyiksa. Tapi lebih menyiksa sejak adanya Corona. Ibaratnya dua kali kami kejatuhan tangga. Saat awal Corona lalu, sangat sepi sekali penjualan. Karena banyak yang takut untuk berbelanja ke pasar," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
Terkini
-
Sebelum Dipulangkan Syafiq Ali Pendaki Hilang di Gunung Slamet akan Diautopsi di Pemalang
-
9 Fakta Mengerikan di Balik Kerusuhan Iran: Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap, dan Ancaman Militer AS
-
Suzuki Karimun 2015 vs Kia Visto 2003: Pilih yang Lebih Worth It Dibeli?
-
Banjir Lumpuhkan SPBU Kudus, Pertamina Patra Niaga Sigap Alihkan Suplai BBM Demi Layanan Optimal
-
Semen Gresik Gaungkan Empowering Futures sebagai Landasan Pertumbuhan dan Keberkelanjutan