Para peneliti mencapai kesimpulan ini setelah memperhitungkan lemak jenuh, natrium, gula, dan asupan serat dalam produk makanan itu.
Lalu, apa yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi konsumsi produk makanan olahan?
"Jadikan kelompok satu sebagai bahan pangan pokok sehari-hari, mulai dari bayi, anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Bayi baru lahir rawat gabung inisiasi menyusui dini (IMD) agar dia tidak perlu mendapat makanan ultra proses susu bubuk," kata Ketua Umum AIMI, Nia Umar dalam "Peluncuran Dokumen Bahaya Terselubung Makanan Ultra Proses" via daring, Jumat.
Makanan termasuk kelompok satu yakni tidak diproses atau diproses minimal antara lain: bagian tumbuhan yang bisa dimakan seperti biji-bijian, buah-buahan, berasal dari hewan yang dikonsumsi dengan cara direbus, didinginkan, disangrai, dibakar, ditumbuk, digoreng dan lainnya.
Di Indonesia, makanan termasuk kelompok ini misalnya nasi liwet, nasi kuning, nasi uduk, aneka sup, soto, berbagai hidangan kukus dan lainnya yang tidak melalui proses industri.
Saran lainnya, memanfaatkan makanan kelompok dua yakni yang dihasilkan dari kelompok satu atau dari bahan alam yang diproses misalnya garam, gula, minyak, rempah-rempah bubuk dalam jumlah kecil.
Anda juga disarankan membatasi konsumsi makanan olahan semisal bir, buah yang dilarutkan dalam larutan sirup, sayur yang diawetkan dalam air asin atau acar.
Selain itu, Anda perlu menghindari makanan yang melalui tahap ultra proses misalnya dengan cara karbonasi, pemadatan, pengocokan dan lainnya.
Sementara khusus untuk makanan yang melalui tahap ultra proses, sebaiknya Anda hindari. Walau menurut Nia saat ini promosi makanan kategori ini kian masif sehingga banyak orang tak tahu cara memasak bahan pangan.
Baca Juga: Setahun Pandemi Covid-19, Kisah Pengrajin Peti Jenazah Tahan Ketakutan
"Makanan ultra proses sebaiknya tidak perlu ada (dikonsumsi) karena memiliki efek negatif pada kesehatan dan bumi kita. Kenali makanan ultra proses, tidak membeli dan berhati-hatilah dengan promosi," tutur Nia.
Peneliti dari Helen Keller Indonesia (HKI) dr. Dian Nurcahyati Hadihardjono menyarankan Anda terbiasa membaca label kemasan produk untuk mengetahui kandungannya.
"Dari kandungan gula saja dari makanan ultra proses, bayangkan satu produk saja kandungan gula yang kita konsumsi sudah melewati batas yang sehat tetapi kita masih makan yang lain, misalnya es krim, susu," kata dia.
ANTARA
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya