SuaraJawaTengah.id - Ramadhan tahun ini masih dalam situasi pandemi Covid-19. Hal itu tentu saja harus diantisipasi seluruh masyarakat jika tak ingin tertular virus mematikan tersebut.
Masyarakat pun diminta mengindari beberpa tempat yang kemungkinan bisa menjadi klaster penularan Covid-19.
Satgas Covid-19, menyebut ada 4 area yang kemungkinan menjadi tempat penularan Covid-19 terbanyak selama Ramadan. Hal itu karena melihat adanya tradisi masyarakat selama Ramadan yang bisa menimbulkan peningkatan kerumunan.
"Kita sudah sampaikan ke tim Satgas di daerah bahwa ada beberapa titik yang rawan menjadi tingkat penularan Covid selama Ramadan. Kita punya tradisi misalkan, suka ngabuburit, sahur keliling, takbir keliling atau mencari takjil. Jadi ini juga akan diamati," kata Sonny dalam konferensi pers virtual, Jumat (16/4/2021).
Area pertama yang harus diwaspadai penyebaran kasus yakni titik orang berbelanja. Sonny mengatakan, area tersebut bisa pusat perbelanjaan pasar maupun kerumunan saat memberi takjil. Kedua, penyebaran kasus juga rawan terjadi di tempat ibadah.
"Kemudian ketiga, kita juga harus waspadai penyebaran kasus di tempat wisata atau misalkan restoran, tempat yang menjadi kemungkinan terjadinya penularan. Keempat tentu kita harus mencoba mendorong pembatasan mobilitas. Oleh karenanya pemerintah melarang mudik," jelas Sonny.
Menurut Sonny, pemerintah melarang mudik dengan alasan yang jelas.
"Bahwa kita ingin melindungi 271 juta penduduk Indonesia. Kami sampaikan juga, bukan soal tanggal mudiknya, tetapi kami betul-betul masyarakat harus sadar keputusan untuk tidak mudik demi melindungi semua. Di tanggal berapa pun mudik tentu akan sangat berbahaya apabila ternyata terjadi penyebaran kasus," ucapnya.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya tetap disiplin protokol kesehatan di mana pun dan apapun aktivitas masyarakat. Sonny juga menyarankan agar selama Ramadan, pengurus masjid bisa memanfaatkan momentum untuk menyisipkan pesan terkait Covid-19 pada setiap ceramah.
Baca Juga: Ramadhan ke-5, Ini Jadwal Imsakiyah dan Salat di Surakarta dan Sekitarnya
"Kami telah meminta kepada Dewan Masjid Indonesia agar ceramah, tausiah, kultum, pengajian yang dilakukan baik secara luring maupun daring, itu menyampaikan pesan tentang pentingnya kita menjaga kesehatan, mematuhi protokol kesehatan, menghindari bahaya Covid-19, dan seterusnya," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Polisi Amankan Pria Diduga Mabuk dan Mengamuk di Depan Gerbang UNS
-
BRIN Minta Pembatasan Kadar Nikotin dan Tar Diterapkan Bertahap
-
Siswa Madrasah di Pati Patah Jari Usai Di-Bully, Pengakuan Keluarga dan Sekolah Bertentangan
-
BRI Perkuat Bekal Kewirausahaan PMI Taiwan, Siapkan Langkah Membangun Usaha di Tanah Air
-
Pembangunan Stadion Kendal Tornado FC Disiapkan, Jadi Tonggak Kemajuan Sepak Bola Daerah