- Buka bersama kini menjadi ajang pembuktian sosial dan pamer pencapaian hidup, khususnya dengan teman lama.
- Generasi Z menghadapi tekanan sosial dari dunia digital yang memicu kecemasan akan status dan masa depan.
- Riset menunjukkan Gen Z memiliki tiga tipologi berbeda; pemahaman ini penting untuk strategi komunikasi yang tepat.
SuaraJawaTengah.id - Gen Z menjalani Ramadan dan menyambut Lebaran dalam harap-harap cemas. Kesempatan buka bersama dan silaturahmi setahun sekali, bisa berubah menjadi panggung penghakiman.
Dulu, ajakan buka puasa bersama terasa menyenangkan buat Naila Nihayah. Pertemuan dengan teman lama biasanya menjadi kesempatan untuk bernostalgia, mengenang kembali cerita-cerita konyol semasa sekolah atau kuliah.
Namun seiring waktu, rasa itu perlahan berubah. Alih-alih menjadi ruang sambung silaturahmi, buka puasa kini lebih menjadi ajang pamer pencapaian hidup. “Sekarang bukber rasanya seperti flexing,” kata Naila.
Fenomena itu terutama terjadi pada lingkaran teman-teman lama. Suasana buka bersama yang seharusnya hangat, berubah menjadi percakapan yang sarat pembuktian sosial.
Perempuan kelahiran tahun 1999 itu membagi sirkel event buka puasanya menjadi dua jenis: Bukber bersama alumni sekolah atau kuliah dan buka bersama rekan kerja.
Jika bersama teman kerja, obrolan biasanya lebih ringan karena mereka berinteraksi dalam lingkungan yang sama. Tapi begitu kumpul dengan mantan bestie sekolah, basa-basi sering menuju ke arah yang tidak nyaman. “Bukber alumni cenderung jadi adu validasi.”
Yang dibahas bukan lagi soal kenangan masa lalu, tetapi tentang pencapaian saat ini. Cerita soal gaji, pekerjaan, hingga kehidupan rumah tangga.
“Ada yang cerita sudah kerja di sini, gajinya segini. Cerita soal sudah menikah, punya anak,” katanya.
Bagi sebagian orang mungkin itu sekadar berbagi cerita. Namun bagi Naila, percakapan seperti itu sering terasa melelahkan.
Baca Juga: FWD Day Dorong Generasi Muda Jadi Lebih Kompetitif Lewat Literasi Keuangan di Undip
Capek Adu Gengsi
Dia merasa momen yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi, justru berubah menjadi ajang hisab sosial. Semua orang ditakar. Ditimbang kelayakan hidupnya.
“Capek banget dengernya. Kita kumpul kan cuma mau seru-seruan. Bukan denger soal rumah tangga yang harmonis atau masalah keluarga.”
Situasi itu membuat banyak orang tidak nyaman. Terutama bagi mereka yang merasa capaian hidupnya belum sampai di titik yang setara dengan teman-teman lainnya.
Menurut Naila, setiap orang memiliki fase hidup yang berbeda. Seperti tangga, setiap orang menginjakan kaki di anak tangganya masing-masing.
“Misalnya saya sudah di tangga empat, tapi ada teman yang masih di tangga satu atau dua. Seharusnya hal yang kayak gitu nggak usah dibahas. Bikin nggak nyaman.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
Soroti Krisis Kepercayaan, Yoyok Sukawi Desak PSSI Transparan Soal Isu Penundaan Kongres
-
Polda Jateng Selidiki Kematian Dugaan Bunuh Diri Taruna Akpol: Baru Ikuti Pembukaan Pendidikan
-
Ini Identitas Taruna Akpol yang Tewas Diduga Bunuh Diri
-
Bupati Nonaktif Cilacap Didakwa Minta Kepala OPD Kumpulkan Rp568 Juta untuk THR
-
Presiden Prabowo Subianto Pimpin Akad 62 Ribu KPR FLPP, BRI Dorong Kepemilikan Rumah Rakyat