SuaraJawaTengah.id - Terpapar Covid-19 mengharuskan seseorang melakukan isolasi mandiri (Isoman). Apalagi saat rumah sakit dan tempat isolasi terpusat lagi penuh-penuhnya, isoman menjadi alternatif jika terinfeksi virus Corona.
Isolasi mandiri di rumah dilakukan bagi orang yang terpapar Covid-19 dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Mereka diharuskan mengisolasi selama 10-14 hari.
Lalu bagaimana merawat diri saat melakukan isolasi mandiri di rumah?
Dilansir dari himedik.com, Dr Faheem Younus menjawab bagaimana merawat Covid-19 di rumah dalam Simposium Covid-19 bertajuk Optimis Indonesia Pulih pada Sabtu (17/7/2021) secara online.
Dokter Faheem menegaskan jika merawat Covid-19 dari rumah Anda disarankan untuk tak mengonsumsi antibiotik.
"Anibiotik bukan obat yang tepat untuk Covid-19, faktanya 90 persen pasien Covid-19 tak membutuhkan antibiotik sebab antibiotik membunuh bakteri bukan virus," ujar dokter Faheem yang merupakan pakar penyakit menular dari University of Maryland Upper Chesapeake Health.
"Sepertiga pasien biasanya mendapatkan efek samping antibiotik ayng terkadang mirip dengan gejala Covid-19, kadang-kadang orang tidak tahu apakah itu gejala Covid-19 atau efek samping antibiotik," imbuhnya.
Ia juga menambahkan bahwa kebanyakan antibiotik bisa menyebabkan resistensi antibiotik. Kondisi ini menyebabkan antibiotik tak lagi manjur saat Anda terkena penyakit bakteri di waktu mendatang.
Selain antibiotik, dokter Faheem juga menyatakan bahwa banyak pasien yang masih merasa lemas meski sudah lebih dari 10 hari infeksi. Ia menyatakan bahwa kondisi tersebut masih sangat wajar atau normal.
Baca Juga: 4 Cara agar Pasien Isoman Cepat Pulih
"Dalam dua minggu Anda akan membaik 80 persen, 20 persennya terjadi dalam 5 hingga 6 minggu. Memang agak lama, intinya jika Anda tak memburuk tentu itu tanda bahwa kondisi Anda membaik [meski masih lemas]," imbuhnya.
Menurutnya, selagi saturasi oksigen masih mencapai 90, Anda masih tergolong dalam kondisi moderat atau tak parah.
"[Dengan kondisi moderat] Anda tak perlu obat-obatan spesifik, hanya semacam pereda panas seperti paracetamol. Fokusnya adalah istirahat, makan, dan isolasi tentunya," imbuhnya.
"Setelah 10 hari Anda bergejala, seharunya Anda sudah bisa keluar dari isolasi," imbuhnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Bau Babi di Kapal ASDP Tuai Keluhan Penumpang, Pemerhati Usul Kapal Khusus Ternak dari APBN
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Atlet Silat Event Porprov Jateng Meninggal Dunia: Sempat Cedera di Tengah Kompetisi
-
Dari Medan Perang hingga Turun Padamkan Karhutla: Ini Rekam Jejak Mayjen TNI Sriyanto Pimpin BPGMN
-
Kembangkan Kasus Pembakaran Warung Mi Babi, Polisi Gerebek Ponpes di Karanganyar
-
Kucurkan Rp10 Miliar untuk Solusi Banjir Rob, Pemprov Jateng Bangun Tanggul Hybrid di Demak
-
Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet