SuaraJawaTengah.id - Wali Kota Salatiga, Yuliyanto mempertanyakan salah satu indikator penentuan level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat yakni bed occupancy rate (BOR) tidaklah relevan.
Menurutnya, jika indikator itu tetap digunakan, maka Salatiga tidak akan bisa turun ke level 3 dan seterusnya karena RSUD Kota Salatiga, BOR saat ini mencapai di atas 50%.
“Bed isolasi RS se-Salatiga saat ini tidak hanya melayani pasien dari Salatiga. Tapi, ada juga warga luar Salatiga yang dirawat. Jadi kalau penentuannya berdasarkan pasien yang dirawat di rumah sakit, Salatiga enggak akan turun level,” kata Yuli dilansir Semarangpos.com--jaringan Suara.com, Kamis (22/7/2021).
Yuliyanto mengklaim jumlah pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit yang berasal dari Kota Salatiga saat ini hanya berkisar 30% dari total keseluruhan pasien yang dirawat.
“Kami kan enggak mungkin menolak pasien. Kalau ada yang sakit yang harus mendapat perawatan supaya cepat sembuh, tidak memandang asal pasien,” tuturnya.
Pemerintah pusat menetapkan Kota Salatiga dalam kategori Level 4 dalam penerapan PPKM mulai 21-25 Juli 2021. Meski secara aturan tidak jauh berbeda antara PPKM level 4 dan level 3, namun secara level risiko penularan kasus berbeda.
Daerah yang masuk kategori level 4 memiliki risiko persebaran Covid-19 yang lebih tinggi. Daerah yang masuk kategor level 4 memiliki lebih dari 150 kasus Covid-19 per 100.000 penduduk.
Selain itu memiliki 30 kasus yang dirawat di rumah sakit per 100.000 penduduk, dan lebih dari 5 kasus meninggal dunia per 100.000 penduduk.
Sementara untuk level 3 kriterianya ada 50-150 kasus Covid-19 per 100.000 penduduk, 10-30 kasus yang dirawat di rumah sakit per 100.000 penduduk, dan 2-5 kasus kematian per 100.000 penduduk.
Baca Juga: PPKM Darurat Diganti PPKM Level 3, Ini Bedanya
Meski demikian, Yuliyanto tetap akan mendukung kebijakan pemerintah pusat terkait perpanjangan PPKM tersebut. Apalagi, penerapan PPKM darurat itu mampu menurunkan tingkat mobilitas warga yang berimbas pada penurunan kasus Covid-19.
“Memang ini berpengaruh terhadap penurunan kasus Covid-19, tapi perlu disiapkan juga skenario kebangkitan ekonomi,” tuturnya.
Bantuan tidak hanya diberikan kepada masyarakat ekonomi rendah, tapi juga pelaku usaha yang terdampak PPKM seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kita ada bantuan untuk pelaku UMKM yang terdampak, seperti pelaku UMKM kuliner. Yang enggak bisa buka selama PPKM darurat kita beri bantuan sembako,” jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah