SuaraJawaTengah.id - Seluruh dunia berupaya menekan pandemi COVID-19. Dengan menyuntikan vaksin kepada masyarakat, diyakini bisa melindungi dari wabah virus Corona.
Lalu bagaimana kinerja vaksin Pfizer untuk membentuk antibodi dan bisa menekan keganasan COVID-19?
Menurut sebuah studi di Inggris, jeda yang lebih lama antardosis vaksin COVID-19 Pfizer mengarah pada kadar antibodi keseluruhan yang lebih tinggi dibanding jeda yang lebih singkat, meskipun terjadi penurunan tajam kadar antibodi setelah penyuntikan pertama.
Penelitian itu dapat membantu menginformasikan strategi vaksinasi terhadap varian Delta, yang mengurangi keampuhan dosis pertama vaksin COVID-19 meski dua dosis masih bisa melindungi.
"Untuk interval dosis yang lebih lama tingkat antibodi penetralisir terhadap varian Delta diinduksi secara kurang baik setelah dosis pertama, dan tidak bertahan lama dalam jangka waktu itu sebelum dosis kedua (diberikan)," kata penulis studi yang dipimpin oleh Universitas Oxford Jumat (23/7/2021).
"Setelah dua dosis vaksin, tingkat antibodi penetralisir dua kali lebih tinggi pada interval dosis yang lebih lama ketimbang interval yang lebih singkat."
Antibodi pentralisir dianggap berperan penting dalam kekebalan tubuh melawan virus corona, tetapi tidak seluruhnya karena sel T juga turut berperan.
Studi itu menemukan tingkat sel T secara keseluruhan 1,6 kali lebih rendah dengan jeda yang lama daripada jadwal pemberian dosis yang singkat 3-4 pekan. Namun, proporsi yang lebih tinggi dialami sel T "pembantu" dengan jeda yang lama, yang mendukung memori kekebalan dalam jangka panjang.
Para penulis menekankan bahwa jadwal pemberian dosis menghasilkan antibodi yang kuat dan respons sel T dalam studi pada 503 tenaga kesehatan.
Baca Juga: 6 Negara yang Tidak Terkena Virus Corona
Temuan-temuan itu, yang diterbitkan sebagai pracetak, mendukung anggapan bahwa selagi dosis kedua diperlukan untuk memberikan perlindungan utuh terhadap varian Delta, penundaan pemberian dosis mungkin memberikan imunitas yang lebih tahan lama, bahkan jika dengan mengorbankan perlindungan dalam jangka pendek.
Desember lalu Inggris memperpanjang interval antar dosis vaksin hingga 12 pekan, meski Pfizer telah memperingatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung perubahan dari jeda tiga pekan.
Inggris kini merekomendasikan jeda delapan pekan antar dosis vaksin untuk memberi masyarakat perlindungan yang lebih tinggi terhadap varian Delta yang sangat menular, seraya tetap memaksimalkan respons imun dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Saya rasa 8 pekan waktu yang paling efektif," kata Susanna Dunachie, ketua investigator studi itu kepada wartawan.(ANTARA)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan