Begitu selesai pertandingan, Tulus langsung mengirimkan ucapan selamat melalui aplikasi WhatsApp. Ia juga meminta agar anaknya tetap bisa fokus karena masih ada satu pertandingan lagi yang harus dijalani.
"Selamat ya nak, semoga kedepannya lebih baik lagi," tulis Tulus kepada anaknya yang baru akan kembali ke tanah air tanggal 5 September esok.
Sepulangnya dari Tokyo, pertandingan PON yang berlangsung di Papua pada bulan Oktober sudah menanti. Oleh sebabnya kemungkinan ia langsung persiapan dan tidak sempat pulang ke Banyumas.
Yoga merupakan salah satu atlet para atletik berprestasi di Indonesia. Dia pernah menyumbangkan medali emas untuk Indonesia pada ajang World Para Atletik di China pada 2018. Lalu, dua emas juga dipersembahkan saat tampil di ajang Asian Para Games 2018 yang berlangsung di Indonesia.
Sebelum itu, Yoga pernah merebut dua medali emas dan satu perak di ajang ASEAN Para Games Malaysia 2017. Kemudian di tahun yang sama, dia menyabet dua medali perak di ajang Asian Youth Para Games 2018 Dubai.
"Tapi meski sudah berprestasi sebenarnya dia tidak ingin terlalu diekspos. Pernah suatu ketika Yoga di undang acara televisi tapi dia tidak mau. Malah menyuruh saya yang berangkat. Ya jelas saya tidak mau, tutur kata saya tidak teratur soalnya," katanya.
Terakhir kali pulang ke kediamannya, setelah lebaran Iduladha lalu. Itupun hanya sehari saja. Kepulangannya tersebut untuk meminta doa restu kepada orangtua sebelum menjalani persiapan menghadapi Paralimpiade.
"Terakhir kali pulang kemarin setelah lebaran besar. Tapi cuma sehari saja karena memang jadwalnya padat. Pulang terus minta doa restu akan berangkat pertandingan di Tokyo ke saya dan ibunya sudah setahun ini sedang sakit di rumah," tuturnya.
Perjuangan Yoga juga tidak terlepas dari peran pelatih yang menemukan bakat anak didiknya saat mengenyam pendidikan di SMK Muhammadiyah Ajibarang. Adalah Winda Prasepty.
Baca Juga: 5 Hits Bola: Lewat Jersey Baru, Persib Coba Hidupkan Nilai Bhineka Tunggal Ika
Menurutnya, banyak kenangan yang sempat terjadi dengan Yoga. Dirinya yang mengajar di sebuah club atletik yang bernama Flash Atletic Club pertama kali bertemu dengan Yoga pada tahun 2014. Saat itu dirinya melihat sosok Yoga, meski difabel, ia memiliki postur yang atletis hingga memiliki kemampuan olahraga terutama dalam bidang lompat tinggi yang lebih tinggi dibandingkan siswa lainnya.
"Waktu itu siswa lainnya lompat hanya 130 cm, tapi dia bisa lompat lebih dari 140 cm. Kemudian saya tanya, dia suka olahraga atau tidak, dia bilang suka dan saya minta dia ikut saya, saya latih untuk nanti kejuaran di Bandung," terangnya saat dihubungi.
Perjuangan paling berat dialami Winda saat membujuk orang tuanya, agar Sapto bisa menjalani TC di Solo. Ia memahami betul selama ini orang tua Yoga tidak pernah jauh dari anaknya, terutama ibunya.
"Saya sering kali meyakinkan ke orang tuanya. Saya bilang di sana (Solo) sudah diurusi dengan baik, makanannya juga enak-enak," katanya.
Meski sekarang ini Yoga sudah tidak lagi menjadi muridnya, dan sudah menjadi atlet nasional. Winda mengaku masih berkomunikasi dengannya, sekadar memberikan semangat serta memantau kondisinya.
"Saya, bangga banget, kita pernah mengusahan dia sampai ke sana. Kemarin dia WA saya, dia bilang dia sudah sampai Tokyo. Saya juga ucapkan selamat," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya