SuaraJawaTengah.id - Kuburan massal korban tragedi 1965 ditemukan di pekarangan rumah warga di Sragen, Jawa Tengah.
Di pekarangan tersebut, pada suatu malam, sebelas orang dieksekusi mati dengan cara diberondong dengan tembakan senjata api.
Darmin (60) adalah pemilik pekarangan tempat penguburan jenazah korban 1965, tepatnya di Dusun Dukuh, RT 7, Desa Tenggak, Sidoharjo.
Saat ini, area kuburan sudah dibeton oleh ahli waris. Sebelum dipondasi pada 3 Juli 1993, lokasi tersebut berupa gundukan tanah. Pada permukaan beton kemudian dipasangi tulisan Bong-Tomo-DKK-11.
Bong atau Bung Tomo merupakan sebutan dari salah satu tokoh penting yang turut dieksekusi. Sedangkan DKK merupakan kependekan dari dan kawan-kawan. Sementara angka 11 merujuk pada jumlah warga terduga anggota PKI yang dieksekusi mati.
Sesepuh warga bernama Sugi Atmojo (78) merupakan sedikit warga yang mendengar cerita kejadian tahun-tahun penuh kegelapan itu.
“Jadi dulu di sini itu tanah lapang dekat makam. Lalu dibuatkan satu lubang untuk mengubur mereka setelah dieksekusi. Saya juga tidak tahu persis ceritanya bagaimana. Saya hanya mendapat sedikit cerita dari orang tua dulu,” ujar Sugi kepada jurnalis Solopos.com, Sabtu (25/9/2021).
Saat eksekusi berlangsung, semua warga desa dilarang keluar dari rumah. Tetapi warga tahu kejadiannya. Setelah dieksekusi mati, korban dikubur dalam sebuah lubang.
Dari cerita yang didengar Sugi, dari 11 warga yang dieksekusi mati malam itu, terdapat satu orang yang kebal peluru. Dia seorang kepala desa yang menjabat di Kecamatan Sambirejo.
Baca Juga: Kisah dr Djelantik Menolak Serahkan Pasien Simpatisan PKI ke Pasukan Tameng
“Sudah ditembaki, tapi tidak bisa mati. Akhirnya dia didorong ke lubang dan dikubur hidup-hidup bersama 10 warga lain,” kata Sugi.
Beberapa orang yang dieksekusi mati merupakan perangkat desa yang menjadi pengikut setia kepala desa.
Pemilik emperan tempat penguburan eksekusi mati, Darmin, berusia sekitar empat tahun ketika kejadian berlangsung.
Sebenarnya lahan tersebut milik ayah Darmin yang kemudian diwariskan kepada Darmin. Ayah dari Darmin membangun rumah beberapa tahun setelah kejadian.
Ketua RT 7 Husnul Aziz mengaku tidak tahu siapa saja yang dieksekusi mati.
“Bong atau Bung itu sebutan untuk orang-orang hebat pada masanya. Karena dianggap bagian dari PKI, mereka lalu dieksekusi mati. Tapi, siapa saja mereka, kami juga tidak tahu. Konon, salah satu di antara mereka katanya seorang kades asal Kecamatan Sambirejo yang dikenal sakti karena tidak mempan peluru,” katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Legislator Sebut Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia
-
Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun