Sebab dengan adanya Volksraad berarti mengadakan kerjasama dengan pemerintah kolonial. Dalam kongres Sarekat Islam yang ketiga, pengaruh Semaoen makin meluas.
Hal ini terlihat dengan terorganisirnya kaum buruh dan kaum tani dengan dibentuk sentral-sentral Sarekat ekerja.
Dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda, Sarekat Islam Semarang terdapat dua kubu yakni kubu Semaoen dan kubu Abdoel Moeis.
Semaunn lebih radikal sedangkan Abdoel Moeis lebih kooperatif. Pertentangan antara Semaun dengan Abdoel Moeis dalam masalah Volksraad dan perbedaan pandangan mengakibatkan perpecahan dalam tubuh Sarekat Islam itu sendiri.
Yaitu Sarekat Islam Putih (SI Putih) , yang tetap mempertahankan dasar agama yang dipimpin oleh Cokroaminoto dan Abdoel Moeis dan Sarekat Islam Merah (SI Merah), yang bersifat mempertahankan ekonomis dogmatis yang dipimpin oleh Semaoen dan Darsono.
Hal itulah yang membuat SI yang dipimpin Semaun itu dijiluki sebagai SI Merah. Namun, tak lama kemudian Semaun digantikan oleh Tan Malaka karena dia berangkat ke Uni Soviet untuk menghadiri kongres.
Menurut Tsabit, pada Mei 1922 Semaun dikabarkan kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) dari Uni Soviet. Saat kembali ke Hindia Belanda kondisi Partai PKI tak begitu baik karena keterlibatan Partai PKI mendukung aksi pemogokan serikat buruh.
Dukungan PKI terhadap pemogokan buruh itu juga harus dibayar mahal, karena Tan Malak akhirnya diusir oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.
"Namun pada 1923 Semaun juga ditahan karena pemogokan buruh kereta api. Setelah ditahan, dimaun diusir dan menetap di Amsterdam," paparnya.
Baca Juga: Sejarah Hari Kesaktian Pancasila dan Maknanya bagi Bangsa Indonesia
Di Belanda, Semaun menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia yang merupakan salah satu organisasi mahasiwa Indonesia di Belanda pada waktu itu.
Pada November 1926 dan Januari 1927 pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pecah. Banyak orang PKI yang dibuang ke Digul, beberapa juga berhasil kabur ke Uni Soviet.
Menurutnya, di Eropa Timur Semaun dan teman-temannya mulai mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Terbukti beberapa negara Eropa Timur seperti Ukraina menjadi salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
"Jadi selain bangsa Arab, sebenarnya negara Eropa Timur juga mendukung kemerdakaan Indonesia ketika awal-awal dikampanyekan," ucapnya.
Kontributor : Dafi Yusuf
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah