SuaraJawaTengah.id - Orang Jawa menjadi penduduk yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya di dalam negeri, Suku Jawa juga diterima di negara-negara di Dunia.
Diketahui Suku Jawa merupakan kelompok masyarakat yang mendiami sebagian besar wilayah Pulau Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah istimewa Yogyakarta (DIY).
Tinggal di pulau paling padat membuat warga Suku Jawa menjadi penduduk dominan di Indonesia dengan persentase lebih dari 40 persen dari total penduduk.
Keberadaannya tidak hanya terkonsentrasi di daerah domisilinya saja, namun juga tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Bahkan ada beberapa populasi Suku Jawa di negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Suriname, dan Belanda.
Baca Juga: 5 Rumah Adat Jawa Tengah, Sederhana Tapi Sarat Makna
Menyadur dari Solopos.com Kamis 9/12/2021, keberadaan warga Suku Jawa di berbagai wilayah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya program transmigrasi pemerintah sebagai upaya pemerataan penduduk. Lalu yang paling umum adalah keinginan pribadi untuk merantau supaya mendapatkan penghidupan yang lebih layak.
Faktor yang terakhir adalah pernikahan, di mana salah satu pihak dari pasangan tersebut harus pindah mengikuti pasangannya tinggal di daerah lain.
Keberadaan Suku Jawa di luar Pulau Jawa yang paling signifikan adalah di Provinsi Lampung dengan populasi lebih dari 4,8 juta penduduk. Jumlah populasi Suku Jawa di sana justru lebih dominan daripada suku asli setempat. Daerah berikutnya, yaitu di Sumtra Utara dengan populasi lebih dari 4,8 juta.
Dengan jumlah tersebut, Suku Jawa menempati urutan kedua dalam populasi di Sumatra Utara dengan persentase 31 persen.
Jumlah populasi Suku Jawa yang cukup signifikan di berbagai daerah di Indonesia ini menjadi bukti bahwa Suku Jawa adalah kelompok masyarakat yang paling mudah diterima.
Baca Juga: Deretan 10 Wisata Ngawi yang Punya Pesona Mengagumkan
Suka Mengalah
Suku Jawa, khususnya di Solo dan Yogyakarta dikenal dengan sifatnya yang kalem atau tenang sehingga cenderung lebih memilih untuk mengalah demi meredam ketegangan saat terjadi konflik. Sikap ini disukai oleh warga lokal di mana suku Jawa ini berada. Namun, di saat yang bersamaan, karena sikap yang suka mengalah dan berdamai ini, suku Jawa menjadi mudah dimanfaatkan.
Mudah Membaur
Semangat kebersamaan warga Suku Jawa memang harus diakui. Mereka sangat ahli bersosialisasi dan menempatkan dirinya. Di tempat rantauan, suku Jawa dikenal sebagai kelompok masyarakat yang mudah kenal satu dengan yang lain sehingga mudah bergabung dalam komunitas masyarakat. Perilaku mudah bergaul ini dalam istilah adat Jawa dikenal dengan sebutan Guyub, yang artinya adalah hidup rukun dalam kebersamaan.
Sopan
Sejak Kerajaan Mataram Islam, Suku Jawa sudah diperkenalkan dengan budaya tata kerama, mulai dari penggunaan bahasa hingga sikap gaya tubuh yang harus dilakukan. Suku Jawa, khususnya di Solo dan Yogyakarta mengenal adanya tingkat pada Bahasa Jawa yang harus digunakan. Tata bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari berbeda saat mereka harus berbicara dengan orang yang lebih tua atau dengan pejabat tinggi.
Walaupun suku Jawa tidak menggunakan Bahasa Jawa saat berada di tanah rantauan, mereka tetap menggunakan tata bahasa yang santun saat berbicara dengan orang lain. Kadang, cara bicara suku Jawa yang kalem dan penuh kesantunan ini menjadi bahan olok-olok masyarakat karena dianggap kurang tegas dalam berbicara.
Selain itu, sikap tubuh membungkuk saat melewati orang juga diajarkan sebagai sikap menghormati orang lain yang ada di sekitarnya sambil bilang ‘Nyuwun sewu’ yang artinya meminta izin untuk lewat. Biasanya, sikap membungkukkan badan ini dilakukan oleh anak muda saat berjalan melewati orang yang lebih tua. Namun tidak jarang juga sikap membungkukkan badan ini juga tetap dilakukan saat melewati kerumumnan orang meski tidak semua berusia lebih tua.
Ringan Tangan
Sebagai pendatang, suku Jawa mengerti bahwa sudah seharusnya mengikuti adat istiadat serta peraturan yang berlaku di tanah rantau. Hal inilah yang membuat suku Jawa mudah disukai oleh masyarakat setempat di tanah rantau. Mereka juga dikenal sebagai kelompok yang ringan tangan dan mereka tidak keberatan jika dia diminta bantuan berulang-ulang kali.
Berita Terkait
-
Cemburu Buta! Pria di Blitar Bacok Mantan Istri dan Ibu Mertua!
-
Mudik Lebaran Lancar, 3 Jalur Alternatif dari Semarang ke Jombang Bebas Macet
-
Puncak Arus Mudik Terjadi Hari Ini, Polda Jateng Terapkan One Way dari Tol Kalikangkung hingga Bawen
-
Hadapi Puncak Panen, Bulog Kanwil Jatim Optimalisasi Sarana Pengeringan dan Pengolahan
-
Pasokan dan Distribusi Energi Jawa Timur Aman, Menteri ESDM Apresiasi Satgas Mudik Lebaran Pertamina
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Demi Jay Idzes Merapat ke Bologna, Legenda Italia Turun Gunung
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
Terkini
-
Habbie, UMKM Minyak Telon Binaan BRI Tampil dengan Prestasi Keren di UMKM EXPO(RT) 2025
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025