Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Kamis, 27 Januari 2022 | 19:45 WIB
Altar Keris Mbah Kuntjung yang ada di Klenteng Boen Tik Bio Banyumas, Selasa (26/1/2022). [Suara.com/Anang Firmansyah]

Kembali ke Keris Mbah Kuntjung, pada saat dirasuki sosok gaib yang mengaku sebagai Mbah Kuntjung, kemudian Rakam bertanya dengan menggunakan bahasa jawa halus, apakah bersedia jika ia disediakan altar khusus sebagai penghormatan.

"Mbah Kuntjung menyampaikan 'asal tidak merepotkan ya boleh'. Terkait dengan sajiannya, ia hany meminta wedang kopi celebek kemudian teh, air bening, buah dan jajanan pasar. Tapi Mbah Kuntjung tidaj berkenan sajian yang berasal dari hewan bernyawa. Misal daging atau ikan. Sehingga untuk selamatan hanya disediakan jajanan pasar," ujarnya.

Sejak saat itu, pihak klenteng mencari hari baik setelah adanya altar Mbah Kuntjung. Dengan sangat sederhana menggunakan meja kecil berwarna merah di samping Kongco Hok Tek Ceng Sin pada saat bangunan lama.

"Berkembangnya waktu altar Mbah Kuntjung ada pamor 3 buah keris yang berasal dari penasihat spiritual pada saat itu yang bernama Lifunwun. Beliau adalah ayah kandung dari Bambang Setianto. Pusaka tiga pamor keris ini ada di altar Mbah Kuntjung sejak tahun 1996," katanya.

Baca Juga: Jelang Imlek, Pedagang Musiman di Glodok Mulai Jajakan Perlengkapan dan Pernak-pernik

Tiga keris ini terdiri dari Keris Brojol yang melambangkan kelahiran manusia, keris Sapu Jagat yang berarti membersihkan diri dari hal-hal buruk, dan terakhir Cempana Carita yang berarti pembawa ketenangan.

Sejak tahun 2000 keberadaan altar Mbah Kuntjung sempat berpindah-pindah posisi. Yang awalnya di sebelah pojok selatan timur kemudian dipindah ke sisi utara bangunan klenteng usai mengalami kebakaran pada tahun 2012.

"Memang pusaka Mbah Kuntjung setelah mengalami kebakaran pindahkan sementara sambil perbaikan. Setelah bangunan selesai dibangun pada tahun 2016, altar Mbah Kuntjung kita tempatkan di sayap sebelah utara timur dari bangunan klenteng. Jadi kalau mau sowan tidak perlu masuk ke bangunan klenteng," ungkapnya.

Sejak ditempatkan di sisi utara bangunan klenteng, altar Mbah Kuntjung hampir setiap hari terdapat jajanan pasar. Pengirim berasal dari berbagai latar belakang bukan hanya keturunan Tionghoa saja.

"Ada orang yang istilahnya kirim selamatan untuk kehidupan keluarga mereka. Itu hampir tiap hari, kosong hanya pada hari Sabtu. Karena memang orang Banyumas menghindari hari itu. Tapi yang paling banyak jajanan pasar pada hari Senin Wage, Selasa Kliwon, Kamis Wage, dan Jumat Kliwon. Jumlahnya bisa sampai puluhan. Yang ngirim itu umat dan penghayat kepercayaan. Ada yang dari luar kota juga," tuturnya.

Baca Juga: 8 Potret Tradisi Sangjit Seleb Keturunan Tionghoa, Romantis dan Kental Budaya

Untuk menggambarkan keistimewaan Mbah Kuntjung, tidak sembarang orang bisa menjamas pada saat menjelang Hari Raya Imlek.

Load More