SuaraJawaTengah.id - Nama Ainun Najib beberapa waktu yang lalu sempat jadi perbincangan publik ketika namanya disebut oleh Presiden Jokowi saat memberikan sambutan di Pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2022-2027.
Dalam sambutannya tersebut, secara khusus Presiden Jokowi meminta PBNU untuk membujuk kadernya pulang dan berkarya di Indonesia.
Seperti diketahui Ainun Najib dikenal sebagai praktisi teknologi informasi yang bekerja dan berdomisili di Singapura.
Meski tinggal di Singapura, rupanya Ainun Najib masih mengikuti segala perkembangan dan permasalahan di Indonesia.
Melalui akun twitternya, Ainun Najib turut angkat bicara soal isu penundaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 dan perpanjangan masa jabatan Presiden menjadi tiga periode.
Ainun Najib tak menyetujui ide gila tersebut. Sebab menurutnya, hal itu merupakan bentuk pelanggaran terhadap konstitusi dan mengkhianti reformasi.
"Kalau amandemen konstitusi hanya untuk memperpanjang kuasa, maka itu sesuatu yang hina. Membatalkan reformasi," kata Ainun Najib.
Ia lebih menyarankan Presiden Jokowi dan jajarannya untuk fokus memperbaiki sistem tata negara yang nilainya masih kurang baik.
"Tapi kalau untuk memperbaiki tata negara (yang jelas di penanganan pandemi 2020 amburadul), maka itu bisa jadi sesuatu yang mulia. Meneruskan reformasi," paparnya.
Baca Juga: Presiden Jokowi Akhirnya Buka Suara Soal Wacana Jabatan 3 Periode
Selain itu, Ainun Najib juga meminta Presiden juga untuk menghapus otonomi daerah dan menggantinya dengan sistem federal.
"Federal lebih baik lagi. Konsep otonomi daerah sekarang nanggung, pusat dan daerah masih bisa lempar-lemparan tanggung jawab (overlooked) dan masih bisa saling memveto (overlapped). Kelihatan banget di penanganan pandemi terutama di 2020," tandas Ainun Najib.
Sontak saja cuitan Ainun Najib ini mematik perhatian warganet. Sebagian besar dari mereka ramai memberikan ragam tanggapan di kolom komentar.
"Iya saya juga masih setuju pendapat Bung Hatta, federal lebih cocok untuk Indonesia. Walaupun pernah gagal di RIS, tapi kegagalan itu karena masih adanya campur tangan Belanda, bukan murni negara serikat itu nggak cocok buat Indonesia," ucap akun @idik**.
"Saya setuju gus. Negera Federal jadi beberapa kali jadi topik pembahasan saya dan papa saya beberapa tahun lalu," tutur akun @kyqLase**.
"Usul yang menarik, sudah pernah diomongin pakar tata negara sejak reformasi, tapi sulit dilakukan karena mengubah keputusan para pendiri Republik Indonesia," ungkap akun @inursuju**.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Update Reshuffle Kabinet Hari Ini: Menlu Sugiono Dikabarkan Diganti
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
Pilihan
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
Terkini
-
GIIAS Semarang 2026 Bidik Pasar Jateng, 19 Merek Siap Pamer Teknologi Baru
-
PAD Jateng Baru 62,9 Persen, Masih Kurang Rp5,9 Triliun untuk Kejar Target 2026
-
Bhimasena Run for Whale Shark 2026: Saat Langkah Kaki Membawa Pesan untuk Laut
-
Semen Gresik Kolaborasi Bersama Warga Desa Pasucen, Gotong Royong Bersihkan Aliran Mata Air Brubulan
-
Pencarian Semalaman Berakhir Tragis, Siswa SMK Ditemukan Tewas 50 Meter dari Pantai Jatisari Rembang