Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Mei 2022 | 19:20 WIB
Aktvitas penanaman bibit padi dengan metode Hazton pada lahan sawah milik Subur Raharjo di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Senin (16/5/2022). [ANTARA/Sumarwoto]

SuaraJawaTengah.id - Subur Raharjo, petani di Desa Pegalongan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memilih tetap menggunakan metode Hazton dalam menanam padi karena produktivitas meningkat sehingga hasilnya menguntungkan.

Metode Hazton memberikan keuntungan tersendiri daripada dengan yang konvensional. 

"Metode Hazton ini diperkenalkan oleh Bank Indonesia Indonesia Purwokerto pada tahun 2014. Namun saat ini di Pegalongan kemungkinan cuma ada dua-tiga petani termasuk saya yang masih menggunakan metode Hazton," kata Subur saat tanam padi dengan metode Hazton di area persawahan Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Banyumas, Senin (16/5/2022).

Ia mengakui jika dilihat dari sisi hasil, produksi tanaman padi yang menggunakan metode Hazton lebih banyak jika dibandingkan dengan metode tanam konvensional.

Baca Juga: Hingga Malam Ini, Arus Balik di Ruas Ajibarang-Bumiayu Terpantau Ramai Lancar

Dalam hal ini, dia mencontohkan tanaman yang menggunakan metode tanam konvensional pada musim tanam kedua (April-September) berkisar 4-4,5 ton per hektare.

Sementara untuk produksi gabah dari tanaman padi yang penanamannya menggunakan metode Hazton bisa mencapai 6,6 ton per hektare. Padahal musim tanam kedua terbilang minim hujan.

"Oleh karena itu, sampai sekarang saya tetap gunakan metode Hazton yang dikombinasikan dengan sistem jajar legowo 2:1 dan benih padi varietas IR-64 pada lahan seluas 1.800 meter persegi," katanya.

Lebih lanjut, Subur mengatakan saat metode Hazton baru diperkenalkan oleh BI Purwokerto, luas lahan sawah di Pegalongan yang dijadikan sebagai lokasi uji coba mencapai 10 hektare dan merupakan tanah kas desa (bengkok).

"Berhubung yang terlibat adalah buruh tani, ketika pendampingan yang dilakukan Bank Indonesia selesai, mereka (buruh tani, red.) sangat bergantung pada pemilik lahan yang kebanyakan lebih senang tanam secara konvensional," katanya.

Baca Juga: H+4 Lebaran, Arus Kendaraan di Jalur Selatan Jateng Ramai Lancar

Ia mengatakan banyak petani yang menilai penggunaan jajar legowo 2:1 terlalu lebar, sehingga mereka menyayangkan jika legowo-nya terlalu kosong.

Load More