Posisi literasi digital saat ini bisa dikatakan sama pentingnya dengan pendidikan formal. Internet membuka peluang kemunculan banyak teknologi baru. Artinya, keterampilan yang diajarkan hari ini, bisa jadi harus diperbarui enam bulan berikutnya karena ada fenomena baru.
Contohnya, ketika masyarakat mulai mengenal kode one-time password (OTP) untuk menggunakan dompet digital, penjahat siber beraksi mengaku sebagai penyelenggara dompet digital dan membutuhkan OTP tersebut untuk verifikasi data.
Maka, dalam literasi digital, masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa kode OTP tidak boleh diberikan ke siapa pun, bukan sekadar bagaimana cara menggunakan kode OTP.
Siapa yang perlu mendapatkan pelatihan literasi digital?
Berbeda dengan pendidikan formal, yang biasanya diikuti usia 5 tahun sampai belasan tahun, sasaran literasi digital jauh lebih luas: mereka yang hidup dan menggunakan internet.
Sama pentingnya seseorang berusia 5 tahun dan 50 tahun terpapar literasi digital, tentu dengan pemahaman yang sudah disesuaikan dengan kategori usia. Misalnya, pada usia 5 tahun, literasi digital dititikberatkan pada orang tua supaya memberi aturan berapa lama boleh menonton video.
Tidak seperti pendidikan formal, materi literasi digital tidak melulu harus mengikuti pertambahan usia, tapi seberapa sering mereka terpapar internet. Ilustrasinya, ketika kelas 1 SD, siswa diajarkan matematika berupa pertambahan. Ketika kelas 2 SD, materinya semakin kompleks, yaitu perkalian.
Ada standar kompetensi dalam pendidikan formal, yakni ketika kelas 2 SD siswa diharapkan sudah bisa perkalian. Sementara pada literasi digital, belum tentu bisa mengikuti pola seperti itu.
Seberapa banyak seseorang terpapar internet bisa menjadi ukuran kemampuan digital apa yang dia butuhkan. Contohnya, kita tidak perlu memberi pelatihan cara menangkal serangan DDoS pada orang usia 30 tahun, yang sehari-hari menggunakan internet untuk belanja online.
Baca Juga: NFT Peluang Besar Karya Pelaku Seni di Ranah Digital
Saking pentingnya literasi digital, ia menjadi salah satu isu prioritas dalam subforum G20, Digital Economy Working Group. Negara-negara anggota sepakat perlu ada standar indikator mengukur kemampuan digital.
Literasi digital adalah investasi jangka panjang, hasilnya belum tentu kelihatan dalam waktu dekat. Apa yang diajarkan saat literasi digital hari ini, belum tentu bisa mengubah sikap peserta keesokan harinya.
Tapi, perilaku yang positif menggunakan teknologi digital jika diperkenalkan terus menerus bisa menjadi kebiasaan. Kemudian membudaya.
Indonesia tentu ingin memetik hal-hal yang gemilang dari bonus demografi 2030 nanti dengan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki talenta digital tapi juga etika tinggi dalam berinternet.
Dengan literasi digital yang digelorakan dalam subforum Presidensi G20 Indonesia dan upaya pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika berkolaborasi dengan berbagai instansi dan komunitas diharapkan berinternet untuk kegiatan positif dan bermanfaat menjadi budaya generasi dan bangsa kita. [ANTARA]
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- Apa Varian Tertinggi Isuzu Panther? Begini Spesifikasinya
Pilihan
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
-
Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
Terkini
-
Melaju ke Final Festival Liga Ramadhan, Progres Positif Kendal Tornado FC Youth
-
Kolaborasi KUR BRI dan UMKM Genteng Dukung Program Pembangunan Hunian
-
Tutup Rangkaian Uji Coba vs Persibangga, Ini Catatan Stefan Keeltjes
-
Promo Ramadan BRI: Solusi Hemat untuk Agenda Ngabuburit dan Bukber
-
OTT Bupati Cilacap Guncang PKB: Kader Terkejut, Minta Publik Tunggu Penjelasan Resmi KPK