Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Senin, 05 September 2022 | 06:10 WIB
Ilustrasi internet. Hampir dua tahun yang lalu warganet Indonesia dibuat berang karena hasil survei yang menunjukkan tingkat kesopanan orang Indonesia di internet rendah. [fancycrave1/Pixabay]

Seberapa akurat informasi tersebut, apakah informasi itu berasal dari sumber yang kompeten, belum tentu mereka tahu.

Literasi digital sangat berperan dalam mengatasi fenomena ini. Masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana mengidentifikasi pesan yang berpotensi hoaks dan apa dampaknya jika mereka sering terpapar hoaks.

Betapa pentingnya literasi digital bisa dilihat dari karakteristik internet sebagai media baru. Jika dibandingkan dengan televisi, misalnya, gawai yang tersambung ke internet kebanyakan ditujukan untuk penggunaan pribadi.

Jika saat menonton televisi keluarga bisa berkumpul menonton satu acara yang sama, cerita yang berbeda terjadi ketika mengakses ponsel. Keluarga bisa berada di ruangan yang sama, namun setiap orang menatap layar miliknya masing-masing.

Baca Juga: NFT Peluang Besar Karya Pelaku Seni di Ranah Digital

Memberi pemahaman soal berinternet pun semakin rumit karena sifat individualistis yang ditawarkan internet.

Posisi literasi digital saat ini bisa dikatakan sama pentingnya dengan pendidikan formal. Internet membuka peluang kemunculan banyak teknologi baru. Artinya, keterampilan yang diajarkan hari ini, bisa jadi harus diperbarui enam bulan berikutnya karena ada fenomena baru.

Contohnya, ketika masyarakat mulai mengenal kode one-time password (OTP) untuk menggunakan dompet digital, penjahat siber beraksi mengaku sebagai penyelenggara dompet digital dan membutuhkan OTP tersebut untuk verifikasi data.

Maka, dalam literasi digital, masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa kode OTP tidak boleh diberikan ke siapa pun, bukan sekadar bagaimana cara menggunakan kode OTP.

Siapa yang perlu mendapatkan pelatihan literasi digital?

Baca Juga: 4 Kekurangan Investasi Emas Digital yang Penting Dipahami

Berbeda dengan pendidikan formal, yang biasanya diikuti usia 5 tahun sampai belasan tahun, sasaran literasi digital jauh lebih luas: mereka yang hidup dan menggunakan internet.

Load More