SuaraJawaTengah.id - Kasus pelecehan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan kembali terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Hikmah Al Kahfi Kota Semarang.
Pesantren yang seharusnya jadi ruang aman untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama. Nyatanya tidak demikian, kabar tentang pelecehan seksual di lingkungan agama silih berganti kita dengar.
Kekinian, Pimpinan Ponpes Hidayatul Hikmah Al Kahfi Kota Semarang, Muh Anwar alias Bayu Aji Anwari dikabarkan telah melecehkan enam satriwati sekaligus. Bahkan dua korban diantaranya masih dibawah umur.
Pendamping korban, Iis Amalia mengatakan kasus pelecehan seksual mulai terungkap bermula dari korban berinisial FA yang berani speak up dan mengadu ke UPTD PPA Kota Semarang.
Kemudian UPTD PPA Kota Semarang langsung menindaklanjuti dan bekerja sama dengan unit PPA Polretabes Kota Semarang untuk menangani kasus tersebut.
"Ternyata setelah kami telusuri korbannya ada enam. Yang bisa diproses hanya satu korban atas nama Mawar karena anak dibawah umur usianya 15 tahun," ungkap Iis saat ditemui di Kantor AJI Kota Semarang, Rabu (6/9).
"Sebenarnya korban dibawah umur ada dua. Tapi yang satunya tidak bersedia untuk speak up. Mungkin semacam dapat tekanan," lanjutnya.
Iis kemudian mencerita perihal kronologi Mawar yang jadi korban pelecehan seksual oleh kiainya sendiri. Jadi pada tahun 2021, orang tua Mawar menitipkan anaknya untuk dicarikan Ponpes di Malang kepada Muh. Anwar.
Namun sebelum disalurkan ke Ponpes Malang. Mawar terlebih dahulu ditransitkan di Ponpes Hidayatul Hikmah Al Kahfi milik Muh. Anwar di daerah Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.
Baca Juga: Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Pengasuh Pondok Pesantren di Karanganyar Diambil Alih Polda Jateng
Disanalah Mawar mulai mendapat pelakuan tidak mengenakan dari Muh. Anwar. Pelaku menggunakan kuasanya sebagai kiai untuk menjebak Mawar agar bersedia menjadi pemuas nafsu biharinya.
"Bentuk kekerasan seksualnya persetubuhan. Mawar sudah tiga kali jadi korban kekerasan seksual Muh. Anwar di dalam pondok dan di sebuah hotel," ucapnya.
"Modusnya itu karena dia tokoh agama, dia bilang kepada santri-santrinya harus bersedia mengikuti keinginannya. Kalau tidak nurut, maka santrinya dikatakan berdosa," tambahnya.
Selama melakukan pendampingan pada enam korban. Iis mengatakan Mawar satu-satunya korban yang paling menderita gangguan psikis. Dia sampai mengalami kecemasan dan depresi.
"Kami meyakini masih ada korban lainnya. Soalnya saat kami datangi, ada beberapa santri yang tidak bersedia untuk mengungkap kasus tersebut," paparnya.
Pelaku Sudah Ditahan
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas
-
Siap War Tiket! Indomaret Fun Run 2026 Bakal Ramaikan Gaya Hidup Sehat Warga Semarang
-
Bupati Cilacap Nonaktif Segera Diadili Kasus Dugaan Korupsi THR
-
BRI x REI Expo Semarang 2026 Tawarkan Promo KPR Bunga Mulai 1,75%, Wujudkan Rumah Impian
-
Perkuat Sistem Tanggap Darurat Perusahaan, PT Semen Gresik Gelar Sertifikasi Pemadam Kebakaran