SuaraJawaTengah.id - Perubahan iklim dirasakan pada beberapa waktu terakhir. Tak hanya Indonesia, tapi fenomena alam itu terjadi di seluruh dunia.
Administrator Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat Dr Richard Spinrad mengemukakan bahwa konektivitas laut dan atmosfer berperan pada perubahan iklim yang terjadi di dunia.
Spinrad mengatakan bahwa satu sistem Bumi, konektifitas membuat lautan yang menggerakkan atmosfer, dan atmosfer juga menggerakkan lautan global.
Terkait iklim, jika melihat kelebihan panas yang pada dasarnya tersimpan akibat pembakaran bahan bakar fosil dan karbon dioksida di atmosfer, 90 persen panas tersebut berada di lautan. Sayangnya, 10 tahun lalu hal tersebut masih belum diketahui.
"Jadi bayangkan semua energi itu ada di lautan. Itu akan mendorong segalanya. Yang kita lihat adalah siklon yang lebih dahsyat, badai yang lebih dahsyat, dan badai yang lebih dahsyat. Kita melihatnya dari pengaruh El Nino, La Nina, dan Dipol Samudera Hindia terhadap cuaca dan iklim," kata Spinrad dikutip dari ANTARA pada Jumat (19/4/2024).
Spinrad, yang juga Wakil Menteri Perdagangan untuk Kelautan dan Atmosfer AS, mengatakan hal tersebut juga menjadi kekhawatiran di negaranya, Afrika mengkhawatirkan hal tersebut, dan masyarakat di Eropa.
Menurut dia dari konsep telekoneksi, apa yang terjadi di Samudera Hindia, dan apa yang terjadi di Samudera Pasifik, akan mempengaruhi pola cuaca global. "Jadi semuanya merupakan satu sistem, lautan mempengaruhi lautan, mempengaruhi atmosfer, atmosfer mempengaruhi lautan, dan iklim sebagai dampaknya," lanjutnya.
Sementara peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) BRIN Dr Intan Suci Nurhati menuturkan bahwa dari segi dampak selain suhu hangat laut, juga ada masalah besar mengenai pengasaman laut.
"Jadi yang terjadi adalah ketika karbon dioksida di atmosfer tidak hanya menghangatkan planet kita, karena hal ini seperti membuat selimut planet kita lebih tebal, tapi juga diserap oleh lautan, dan daratan," kata Intan.
Intan mengatakan, laut berperan dalam menyerap karbon dioksida dan menjadi asam sehingga menurutnya ketika berbicara tentang etika, adalah hal yang sangat etis dalam melindungi lautan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Tol Bawen-Ambarawa Dibuka Fungsional 13 Maret, Urai Simpang Bawen yang Kritis!
-
Cara Praktis Mengedit Konten dengan Pemotong Video Online dan AI Voice Over di CapCut
-
Kudus Sambut Era Baru Perlindungan Anak Digital: Medsos Dibatasi, Fokus Belajar Jadi Prioritas!
-
Kepala Daerah di Jateng Wajib Siaga, Dilarang Tinggalkan Wilayah Selama Lebaran!
-
10 Tempat Beli Parcel Murah di Semarang untuk Lebaran 1447 H, Ada yang Mulai Puluhan Ribu