- Revolusi fisik 1945–1949 tak hanya milik tentara; rakyat biasa, laskar, dan jagoan juga turut berjuang.
- Muntilan jadi saksi perang sengit dan pengorbanan warga, terutama 12 warga Macanan yang gugur melawan Belanda.
- Kisah ini menegaskan heroisme tanpa pamrih rakyat kecil, pahlawan sejati yang sering terlupakan sejarah.
Gati Andoko salah seorang penggagas berdirinya Wayang Antro, unit kegiatan seni di Jurusan Antropogi FIB Universitas Gadjah Mada. Dia juga yang membawa Ketoprak Lesung masuk ke Sastra UGM setelah sebelumnya berdiri di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Hingga kini dia telaten mengumpulkan kisah-kisah sejarah lisan yang tersebar di wilayah Kedu Selatan. Beberapa kisah dituliskannya menjadi skenario teater atau naskah ketoprak.
“Saya lebih concern ke masalah-masalah sejarah lisan. Sejarah lisan kelemahannya ada di sumber fisik karena berasal dari cerita ke cerita. Tapi bukan berarti tidak terjadi kan? Jelas dari sisi saya, yakin itu pernah ada kejadiannya.”
Menurut Gati Andoko, warga pendatang di Muntilan ada juga sisa-sisa bekas pekerja pembangunan rel kereta api tahun 1896-1898. Ditambah para buruh angkut truk candu dan tembakau yang mendirikan depo di Muntilan.
Dia menyimpulkan situasi di Muntilan menjelang perang clash Belanda II sangat sporadis.
Bumi Hangus
Setelah Belanda berhasil merebut bandara Maguwo tanggal 19 Desember 1948, otoritas militer Indonesia memerintahkan bumi hangus. Jembatan Kali Krasak dibom agar pasukan Belanda tidak dapat bergerak ke Magelang.
Jembatan Kali Progo juga di-dinamit dengan maksud menghambat laju pasukan Belanda dari arah Gombong yang melintasi Purworejo. Warga yang tinggal di dalam kota Magelang diperintahkan keluar karena jembatan Elo sudah dipasangi peledak.
Tapi karena keterbatasan bahan peledak, tidak ada jembatan yang rusak berarti. Butuh lima hari perbaikan hingga Belanda berhasil menyebrang Kali Krasak dan menyerbu Muntilan.
Baca Juga: Terlupakan dalam Sejarah: Kisah Heroik Soeprapto Ketjik di Magelang, Berani Melawan Tentara Jepang
Kontak senjata meletus di dua wilayah. NICA yang datang dari Yogyakarta mengejar pasukan TKR dan milisi rakyat ke arah selatan. Sedangkan pasukan Belanda yang datang dari arah Magelang mengejar ke utara.
Adu tembak terjadi mulai dari jembatan Blongkeng, Gunungsari, terus mundur ke selatan hingga Ngadisalam dan Ngawen. Di utara, kontak senjata terjadi di sekitar Ketunggeng, Dukun.
“Dulu sebagian wilayah Gunungsari masih rawa-rawa. Sementara ada juga prajurit Republik yang terpisah. Mereka menyeberang kali masuk Sirahan dan sembunyi di SD Ngemplak. Sebagian lurus terus ke selatan arah Sukorini.”
Pengorbanan di Macanan
Padahal di sepanjang tepian Kali Progo di belakang desa Sukorini, menjadi tempat pengungsian ribuan orang. Sejak tanggal 19 Desember, warga Muntilan hingga Gunungpring—konon termasuk Kiai Dalhar Watucongol— mengungsi ke daerah ini.
Bayangkan jika NICA berhasil mencapai kantong pengungsian. Bisa dipastikan terjadi pembantaian dan banjir darah di Kali Progo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jokowi Tak Lagi Optimis Prabowo-Gibran 2 Periode, Gerindra Respons Santai: Pilpres Masih Jauh
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- Profil Suhartoyo, Ketua MK yang Menolak Gugatan Soal Ijazah Gibran
- Jokowi Tampak Tak Lagi Optimistis Gibran Jadi Pasangan Prabowo di Pilpres 2029
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
Fakta Tawuran Maut di Semarang: Pelajar SMP Tewas Kepala Disabet Sajam, 9 Orang Diamankan
-
BMKG Prediksi Semarang Diguyur Hujan Ringan, Pesisir Jateng Waspadai Rob
-
Listrik Jateng Surplus 2.800 MW, WALHI Pertanyakan Urgensi PLTP Gunung Ungaran
-
500 Relawan BRI Peduli Bergerak Jaga Kebersihan di Tengah Gelaran MotoGP Mandalika 2026
-
Pelajar SMP Tewas dengan Luka di Kepala di Semarang, Polisi Selidiki Dugaan Tawuran