- Sukamah didiagnosis menderita skizofrenia hebefrenik berat, menyoroti beban sosial dan kesulitan akses layanan spesialis bagi penderita gangguan jiwa di daerah.
- Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertujuan mengatasi kendala jarak ke fasilitas kesehatan spesialis di desa pelosok.
- Program Speling telah menjangkau ratusan desa, berhasil mendeteksi dini berbagai penyakit, termasuk menekan angka kematian ibu dan penemuan kasus TBC.
SuaraJawaTengah.id - Beberapa kali Sukamah menoleh ke arah pintu keluar Gedung Serba Guna Desa Sumurarum, Grabag. Lalu-lalang orang membuatnya gelisah.
Di sebelahnya, Wira anak nomer dua Sukamah, meladeni beberapa pertanyaan dari petugas puskesmas. Seputar keluhan dan gejala sakit yang diderita ibunya.
“Sejak saya kecil ibu sudah begini. Sejak saya lahir mungkin,” kata Wira yang sekarang pindah duduk ke deretan kursi tunggu.
Sukamah didiagnosa menderita skizofrenia hebefrenik, salah satu gangguan kejiwaan kategori berat. Penderita biasanya mengalami halusinasi, delusi, dan gangguan berpikir.
Skizofrenia bisa sangat mempengaruhi tingkah laku, emosi, dan komunikasi penderitanya. Akibat distorsi realitas, dalam keseharian penderita skizofrenia sangat bergantung pada bantuan orang lain.
Hingga kini belum ditemukan penyebab klinis skizofrenia yang pasti. Banyak ahli berpendapat, kondisi ini muncul karena komplikasi faktor genetik, lingkungan, gangguan keseimbangan senyawa kimia dalam otak, dan pengalaman traumatis berat.
“Orang-orang bilang ibu saya begini karena dulu sering dipukuli bapak atau apalah gitu. Saya sendiri nggak tahu. Bapak juga nggak pernah cerita.”
Mengurai Beban Sosial
Sukamah dan Wira bukan nama sebenarnya. Identitas mereka perlu dilindungi karena menyebut nama pasien gangguan jiwa di tengah masyarakat kita, bisa serupa menguar aib.
Baca Juga: Puncak Musim Hujan Diperkirakan Sampai Desember, Ahmad Luthfi Minta Bupati dan Walikota Siaga Penuh
Meski tampak tegar, nada bicara Wira terdengar berat menceritakan kondisi kesehatan ibunya. Edukasi soal ODGJ sebenarnya sudah sering disampaikan petugas kesehatan, tapi persepsi masyarakat tidak serta merta berubah.
Di banyak tempat, mereka masih disederhanakan sebagai “orang gila”. Istilah yang masih menyakitkan hingga kini.
“Para tetangga kalau ada orang sakit kejiwaan kan sering dihina. Kena bully. Memang kenyataannya ibu saya sakit. Saya hanya berharap ibu bisa sembuh jadi kami tidak dihina lagi,” kata Wira lirih.
Selain beban sosial, keluarga pasien ODGJ juga harus menanggung rasa khawatir terus menerus. Sukamah misalnya pernah pergi diam-diam dari rumah sehingga membuat keluarga kalang kabut.
Wira yang sempat bekerja menjadi buruh perkebunan sawit di Kalimantan Tengah, terpaksa pulang kampung untuk merawat ibunya. Hingga kini diusia menginjak 24 tahun, Wira belum terpikir rencana menikah.
Keluarga beberapa kali membawa Sukamah berobat ke dokter atau rumah sakit. Tapi jarak rumah mereka yang jauh dari pusat pengobatan, membuat terapi tidak bisa dilakukan secara rutin.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Semen Gresik Perkuat Budaya Anti Gratifikasi dan Penyuapan, Wujudkan Tata Kelola yang Berintegritas
-
Liburan ke Dieng Berapa Biayanya? Ini Daftar Lengkap Harga Tiket Wisata yang Perlu Disiapkan
-
Cuaca Semarang Hari Ini Diprakirakan Berawan, BMKG Minta Warga Tetap Pantau Perubahan Kondisi
-
Harga Telur Anjlok hingga Rp17 Ribu per Kg, Peternak Temanggung Klimpungan
-
Borobudur Ubah Konsep Liburan, Tak Sekadar Jalan-jalan tapi Belajar Budaya hingga Refleksi Diri