- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mendesak pemerintah daerah menggencarkan program promotif dan preventif demi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
- Data tahun 2025 menunjukkan tingginya kasus penyakit menular dan tidak menular yang memerlukan perencanaan sistematis serta integrasi layanan kesehatan berjenjang.
- Pemerintah daerah diharapkan terus mendukung inovasi layanan kesehatan seperti dokter spesialis keliling untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat desa.
SuaraJawaTengah.id - Provinsi Jawa Tengah serta kabupaten/kota diminta untuk terus menggencarkan program promotif dan preventif dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah menegaskan, kesehatan adalah pondasi utama pembangunan yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) produktif dan berkelanjutan.
“Tanpa masyarakat sehat, pembangunan infrastruktur tidak akan berjalan optimal. Investasi pada kesehatan, seperti gizi dan layanan dasar, juga akan menciptakan generasi tangguh,” ungkapnya.
Kakung, sapaan akrab Sarif Abdillah, menambahkan, perlu perencanaan pembangunan kesehatan yang sistematis, terarah, terpadu dan menyeluruh, serta dibutuhkan keterlibatan berbagai sektor dalam pelaksanaannya.
“Karena dalam pembangunan kesehatan akan banyak tantangan, sehingga harus dilakukan secara komprehensif, sekaligus menguatkan pelayanan kesehatan,” jelas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah pada 2025, ditemukan 9.020 kasus baru Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan kematian 75 jiwa. Selain itu, temuan Tuberkulosis (TBC) sebanyak 89.967 kasus, HIV baru 6.222 kasus, Malaria 703 kasus, Pneumonia pada balita 88.037 kasus, dan campak 7.195 kasus.
Dalam kasus penyakit tidak menular (PTM), Hipertensi sebanyak 5.070.175 atau 70%. Adapun di urutan kedua adalah obesitas dengan 1.073.870 kasus atau 14,86%.
“Angka-angka ini menegaskan pada kita bahwa layanan kuratif dan deteksi dini tidak cukup, tanpa upaya promosi kesehatan yang kuat, berdampingan dengan preventif dan kuratif,” ujar Kakung.
Menurut Kakung, upaya promotif merupakan hal utama yang bisa dilakukan agar bisa menjadikan sehat sebagai suatu pilihan yang mudah.
Baca Juga: Gagal SNBP 2026? Ini 7 Politeknik Swasta Terbaik di Jateng dan Jogja
“Promotif bukan melulu kampanye. Ini menyangkut soal lingkungan pendukung hidup sehat yakni ketersediaan makanan atau minuman yang lebih sehat, maupun ruang publik yang mendukung aktivitas fisik,” jelasnya.
Kakung sendiri mengapresiasi program pelayanan kesehatan dokter spesialis keliling (Speling) yang telah dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Program ini menghadirkan layanan spesialis hingga tingkat desa.
“Ini model inovasi kesehatan yang layak diterapkan dan dijalankan secara berkelanjutan,” jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Menurut Kakung, sistem layanan kesehatan yang tersusun berjenjang untuk memudahkan pengendalian penyakit.
“Dari desa bisa terintegrasi di kecamatan, kabupaten/kota lalu terintegrasi ke provinsi untuk pengendalian beberapa penyakit,” jelasnya.
Selama ini, Hari Kesehatan Sedunia diperingati pada 7 April. Pada tahun 2026, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengusung tema “Together for Health. Stand with Science” yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbasis ilmu pengetahuan dalam menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Sejumlah Kelompok Mahasiswa Tak Ikut Rencana Demo AMPB di Jakarta
-
Tidak Menyerah dengan Keadaan, Kisah Anak Penjual Bubur Raih Predikat Wisudawan Terbaik
-
Duh! 681 Kendaraan KDKMP Temanggung Sudah Tiba, Koperasi Belum Beroperasi
-
BMKG Petakan Kondisi Tanah hingga Kerusakan Pascagempa NTT
-
KPK Bongkar Modus Jual-Beli Kursi Unsoed: Rektor Beri Akses User ID untuk Loloskan Camaba