Budi Arista Romadhoni
Rabu, 08 April 2026 | 09:09 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem. [ChatGPT]
Baca 10 detik
  • BMKG mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem berupa hujan lebat, petir, dan angin kencang selama masa pancaroba berlangsung.
  • Pejabat BMKG Cilacap melaporkan wilayah Banyumas mengalami cuaca ekstrem akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus pada awal April lalu.
  • Masyarakat diminta melakukan langkah mitigasi dan memantau informasi cuaca resmi guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem tersebut.

SuaraJawaTengah.id - Masyarakat Indonesia diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama masa pancaroba, yakni periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas mengingatkan bahwa periode ini kerap ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan berpotensi memicu kejadian ekstrem yang membahayakan.

Peringatan ini bukan tanpa dasar, mengingat beberapa wilayah telah merasakan dampak langsung dari perubahan cuaca yang drastis.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, di Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu lalu, menekankan pentingnya kewaspadaan ini.

"Pada periode ini, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang," ujarnya.

Sebagai contoh nyata, Teguh Wardoyo menyoroti kejadian hujan ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Banyumas pada Senin (6/4). Kejadian ini menjadi indikator kuat karakteristik cuaca ekstrem yang kerap muncul saat masa transisi musim.

Data curah hujan selama 24 jam terakhir yang tercatat pada Selasa (7/4) menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Banyumas memang dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai petir dan angin kencang.

"Hujan lebat tercatat terjadi di Rempoah, Cikidang, dan Sumbang, masing-masing sebesar 84 milimeter, 87 milimeter, dan 78 milimeter," kata Teguh. 

Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari potensi ancaman yang nyata bagi masyarakat.

Baca Juga: Tragis! Konten Kreator Demak Tewas Saat Syuting di Sungai, Ini Kronologi Lengkapnya

Kondisi ini, menurutnya, dipicu oleh faktor lokal atmosfer yang labil serta pemanasan permukaan yang cukup intens, sehingga pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di wilayah Banyumas dan sekitarnya menjadi maksimal. Akibatnya, hujan lebat terjadi dalam durasi relatif singkat namun dengan intensitas yang sangat tinggi.

Lebih lanjut, BMKG memprakirakan potensi hujan lebat yang disertai petir masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan, terutama pada malam hingga dini hari.

"Kondisi atmosfer yang labil selama masa transisi menyebabkan pertumbuhan awan konvektif menjadi lebih aktif, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat dalam durasi singkat," jelas Teguh.

Fenomena ini, meskipun umum terjadi pada musim pancaroba, tetap memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.

Dampak dari cuaca ekstrem ini tidak bisa dianggap remeh.

Teguh mengingatkan bahwa cuaca ekstrem berpotensi menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pohon tumbang, genangan air, hingga gangguan aktivitas masyarakat, khususnya di wilayah terbuka.

Load More