Budi Arista Romadhoni
Kamis, 16 April 2026 | 20:56 WIB
Ilustrasi ASN wanita yang melakukan WFH dengan tugas ganda yang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Ana, seorang ibu rumah tangga, bekerja sebagai konten kreator Facebook untuk menambah penghasilan keluarga di rumahnya sendiri.
  • Pekerjaan tersebut menimbulkan beban ganda karena Ana harus menyeimbangkan tugas domestik dan profesional secara bersamaan setiap hari.
  • Kondisi ini memicu konflik peran serta tekanan mental akibat pembagian tugas rumah tangga yang tidak adil bagi perempuan.

SuaraJawaTengah.id - Baru lima menit Ana membuka laptop, anak bungsunya ribut merengek ke kamar mandi. Belum sempat membaca email pertama, ia dihadapkan pada pilihan: Bekerja dengan sistem work from home (WFH) atau menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Enam bulan belakangan Ana mencari tambahan penghasilan dari monetisasi online. Memproduksi konten yang diunggah ke akun profesional Facebook.

Awalnya dia hanya menyempatkan waktu maksimal 2 jam sehari untuk riset ide, edit foto di Canva, dan upload ke Facebook. Dari situ dia berharap mendapatkan uang dari iklan, fitur bintang, dan konten bermerek.

Seiring bertambahnya jumlah pengikut dan keinginan mengembangkan akun, ada tuntutan menambah waktu kerja.

Dari semula hanya sekali unggahan per hari, menjadi 3 kali posting—pagi, siang, sore yang rata-rata memakan 1 jam kerja. Total dalam sehari Ana menyisihkan minim 4 jam bekerja di laptop dan telepon genggam.  

“Lumayan dari berburu gift senilai 1 sen dolar—setara Rp150 hingga Rp160 tergantung kurs mata uang—bisa kumpul sedikit-sedikit,” kata Ana kepada Suara.com, Kamis (16/4/2026).    

Sebagai ibu rumah tangga yang nyambi bekerja di rumah, tantangan paling melelahkan bukan dari capeknya bekerja. Tapi samarnya batas antara kerja formal dengan beban tugas domestik.

“Masalah paling besar tercampurnya kerja-kerja domestik. Antara tugas rumahan, ngurus anak-anak—dari pekerjaan formal. Kadang suami juga merasa ‘ini kenapa sih kok main HP terus’.”

Ibu rumah tangga yang punya kerja sampingan konten kreator sekilas memang mirip pengangguran. Berjam-jam menghabiskan waktu scroll Facebook, Instagram, dan TikTok.

Baca Juga: 5 Ide Bisnis Ibu Rumah Tangga yang Punya Bayi: Cari Cuan Sambil Momong

“Kelihatannya kalau orang lihat kayak ibu-ibu yang mainan HP aja kan. Kayak nggak ada hasilnya.”

Memikul Beban Ganda

Ilustrasi Ibu Rumah Tangga (Pexels/RODNAE Productions)

Bagi banyak perempuan, bekerja dari rumah bukan sekadar soal fleksibilitas. Di saat yang sama, mereka tetap memikul pekerjaan domestik tanpa jeda—menciptakan beban ganda yang kerap tak terlihat.

Mereka harus berdarah-darah membagi tenaga dan pikiran untuk menyelesaikan dua tugas sekaligus.  

“Saya orangnya agak ribet kalau ada kerjaan rumah dan harus menyelesaikan kerjaan online juga. Memang harus pinter bagi waktu. Karena masih awalan jadi belum bisa mengatur waktu.”

Setiap hari Ana harus pandai memilah pekerjaan mana yang mesti segera dituntaskan. Masalah jadi runyam jika panggilan mengurus anak datang bersamaan dengan tenggat kerja.

“Yang susah diputus—tidak bisa diganggu kalau kita sedang mikir. Alur kontennya mau kayak gimana. Soalnya konten saya storytelling. Jadi harus selesai dulu karena kalau diputus idenya bisa hilang.”

Sebelum memutuskan menjadi ibu rumah tangga, Ana punya pengalaman bekerja kantoran. Jadi dia bisa membandingkan mana lebih berat kerja penuh waktu di kantor atau kerja dari rumah.

Menurut dia, kerja di kantor lebih ringan karena sudah jelas waktu dan tugasnya. Risikonya paling banter kena omel atasan jika tugas meleset dari target.

“Buat ibu rumah tangga mungkin enak di kantor. Sudah jelas berangkat ke kantor, punya teman-teman dan nggak diganggu pekerjaan rumah—anak-anak. Enaknya di rumah waktunya lebih fleksibel.”

Konflik Gender

Ilustrasi WFH [linovhr.com]

Perempuan yang bekerja dari rumah juga rentan risiko menjadi korban ketidakadilan gender. Double burden adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan beban kerja ganda perempuan—ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah keluarga.

Double burden (beban ganda) adalah ketidakadilan gender dimana perempuan menanggung beban kerja lebih banyak daripada laki-laki. Umumnya berupa tanggung jawab pekerjaan domestik (rumah tangga) sekaligus pekerjaan publik (mencari nafkah).

Situasi ini sering disebut second shift yang memicu kelelahan fisik, stres, dan hambatan karir akibat ekspektasi sosial yang timpang.

Laporan UNDP tahun 2013 menyebutkan beban ganda dipikulkan kepada perempuan yang dianggap punya tanggung jawab lebih besar atas pengasuhan anak.

Distribusi kerja yang tidak adil sering dibenarkan oleh berbagai peran gender stereotip dan wacana “naturalis”. Mereka menganggap semua perempuan memiliki kecenderungan bawaan untuk melakukan pekerjaan pengasuhan.

Argumen bahwa semua perempuan menikmati pekerjaan domestik—bahkan secara alami cenderung melakukannya— semakin menormalisasi kesenjangan antara pembagian kerja laki-laki dan perempuan.

Kurangnya perlindungan sosial, memperkuat pembagian kerja pengasuhan yang tidak merata ini. Memikul tanggung jawab utama melakukan pekerjaan pengasuhan di rumah, merupakan hambatan struktural yang mencegah perempuan mengakses bentuk pekerjaan lain.

“Terutama kita orang Indonesia kan budaya pekerjaan rumah tangga dibebankan kepada istri. Kalau saya agak keberatan—menjalankan kerja formal sekaligus domestik,” kata Ana.

Rentan Tekanan Mental

Ilustrasi stres WFH. (pexels/MART PRODUCTION)

Jurnal Ilmiah Psikologi pernah memuat hasil penelitan yang menunjukkan korelasi signifikan antara konflik beban ganda (double burden) dengan stres karyawati saat pemberlakuan work form home selama pandemi Covid 19.

Dari 56 karyawati yang menjadi sampel penelitian, sebanyak 36 persen menerima konflik beban ganda kategori tinggi. Sedangka 32 persen dan 64 persen lainnya terpapar konflik beban ganda kategori sedang dan ringan.

Karyawati yang menerima konflik beban ganda kategori tinggi, menderita stres 5,4 persen. Sedangkan mereka yang menerima konflik beban ganda kategori sedang dan rendah mengalami stres masing-masing 51,8 persen dan 42,8 persen.

“Bagusnya didiskusikan (berbagi beban kerja suami dan istri). Minta tolong saja. Karena kadang suami atau orang-orang di rumah tidak peka.”

Muncul juga pertanyaan pemberlakuan bekerja dari rumah dari sisi efiensi kerja. Apakah mengurangi 1 hari kerja di kantor untuk ASN dan pegawai swasta efektif menghemat penggunaan bahan bakar minyak.    

“Kalau cuma sehari—work from home ya buat apa? Memang ngaruh untuk efisiensi BBM?”

Bagi ASN yang mempekerjakan asisten rumah tangga, mungkin dapat fokus menyelesaikan tugas kantor dari rumah. Tapi bagi mereka yang mengerjakan tugas domestik sendirian, kebijakan ini pasti akan memberatkan.

“Jadi mungkin saja skema bekerja dari rumah nggak akan jalan itu—minimal tidak efektif dan efisien. Itu liburan aja. Satu hari tambahan libur dalam seminggu,” ujar Ana. “Mungkin kerjanya bisa disambi. Tapi pasti ada kepentingan yang—harus— dikalahkan.” 

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Load More