Budi Arista Romadhoni
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:13 WIB
Suasana diskusi pertama pada Jateng Media Summit 2026 di Khas Semarang, Kamis (21/5/2026). [Suara.com/Budi Arista Romadhoni]
Baca 10 detik
  • Jateng Media Summit 2026 di Semarang membahas krisis keberlanjutan bisnis media akibat disrupsi teknologi serta kecerdasan buatan.
  • Para pakar menyimpulkan model bisnis tradisional tidak lagi memadai sehingga media harus menciptakan ekosistem pendapatan mandiri yang solid.
  • Strategi bertahan mencakup transformasi internal organisasi, efisiensi sumber daya manusia, serta penguatan loyalitas komunitas berbasis kepercayaan audiens.

SuaraJawaTengah.id - Industri media di tingkat lokal menghadapi kenyataan pahit: jurnalisme berkualitas tidak lagi cukup untuk menghidupi dirinya sendiri di tengah gempuran disrupsi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Isu krusial mengenai keberlanjutan bisnis media ini menjadi sorotan utama dalam sesi diskusi pertama Jateng Media Summit (JMS) 2026 yang digelar di Hotel Khas Semarang, Kamis (21/5/2026).

Mengusung tema besar "Peta Jalan Baru Media Lokal Jawa Tengah", forum ini menghadirkan para pemimpin media dan pakar untuk merumuskan strategi bertahan hidup.

Editor In Chief Suara.com, Suwarjono, secara blak-blakan menyatakan bahwa model bisnis lama telah usang.

"Bahwa jurnalisme sekarang ini tidak bisa membiayai media, kalau dulu artikel berita bisa membiayai," tegas Suwarjono dalam sesi yang dimoderatori oleh CEO Pantura Post, Muhammad Irsyam Faiz.

Menurutnya, media saat ini menghadapi "triple disruption": disrupsi teknologi (terutama AI dan algoritma), tuntutan efisiensi, dan tantangan keberlanjutan.

Ia menyoroti bagaimana AI mengubah produksi dan distribusi konten, di mana media justru menjadi "pemberi makan" bagi AI agar tetap relevan dalam pencarian. Di sisi lain, ketergantungan pada iklan, termasuk dari pemerintah, kerap kali justru mematikan kemandirian media.

Solusinya, menurut Suwarjono, adalah membangun ekosistem bisnis yang solid. "Jika tidak bisa membiayai jurnalisme, kita harus punya ekosistem media bagaimana mencari uangnya untuk membiayai. Seperti saya mendirikan Suara.com, modal pertama adalah membuat PT atau perusahaan, untuk bisa membiayai jurnalisme," jelasnya.

Senada, Pemimpin Redaksi Solopos Media Group, Rini Yustiningsih, mengakui adanya tekanan luar biasa terhadap independensi redaksi akibat kebutuhan finansial. Transformasi menyeluruh menjadi kunci, tidak hanya di tim redaksi, tetapi juga keuangan dan bisnis.

Baca Juga: Bedah Masalah Website Pemda yang Sepi Pengunjung, Jateng Media Summit 2026 Gelar Bimtek

"Di era sekarang memang benar sudah berbeda, kita nyari duit untuk kebutuhan jurnalistik. Poinnya adalah kepentingan media untuk membiayai gaji dan operasional," ujar Rini.

Ia mencontohkan Solopos melakukan rotasi tim setiap tiga bulan untuk efisiensi dan menuntut seluruh SDM, tanpa terkecuali, untuk bisa berkontribusi menghasilkan pendapatan (shifting SDM tanpa PHK).

Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi, mengingatkan media untuk memahami cara kerja internet dan AI sebagai jalur distribusi informasi utama.

Ia menjabarkan pergeseran fundamental dari search engine menjadi answer engine, keyword menjadi prompt, dan engagement menjadi authority. Dewan Pers sendiri tengah menyoroti fenomena "homeless media" dan mendorong mereka untuk menunjukkan identitas yang jelas.

Praktisi Periklanan, Janoe Arijanto, menawarkan perspektif berbeda. Ia melihat homogenisasi konten akibat algoritma sebagai ancaman. Solusinya bukan meninggalkan platform, melainkan membangun "parallel media ecosystem" yang berlandaskan hubungan sosial langsung, kepercayaan (trust), dan komunitas yang kuat.

"Semakin dekat media dengan audiensnya, semakin kecil ketergantungannya pada platform," tegas Janoe.

Load More