- Antrean panjang kendaraan terjadi di SPBU Jawa Tengah sejak Juni 2026 akibat lonjakan permintaan BBM Pertalite bersubsidi.
- Masyarakat beralih ke Pertalite karena disparitas harga yang tinggi setelah penyesuaian harga BBM nonsubsidi di wilayah tersebut.
- Pertamina menyatakan stok BBM aman dan menyebut antrean panjang disebabkan tingginya permintaan, bukan krisis energi atau kelangkaan.
Aksi "turun kasta" massal dari Pertamax ke Pertalite di awal Juli ini dipicu oleh tingginya disparitas harga pasca-penyesuaian berkala yang berlaku sejak Rabu, 10 Juni 2026 lalu.
Hingga saat ini, Pertamina masih mematok harga Pertamax murni (RON 92) di angka Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 di angka Rp17.000 per liter.
Sementara itu, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan, di mana Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan BioSolar tetap Rp6.800 per liter. Selisih harga yang mencapai Rp6.250 per liter itulah yang membuat SPBU di Jawa Tengah terus diserbu antrean kendaraan subsidi.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (RJBT), Taufiq Kurniawan, membeberkan data statistik akumulasi hingga akhir Juni 2026 yang membuktikan mayoritas mutlak masyarakat Jateng memang bertumpu pada lini subsidi tersebut.
"Tercatat hingga Juni 2026, mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga. Pada segmen gasoline, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax 25,9 persen, sementara Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen. Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen," rinci Taufiq dalam siaran pers tertulisnya pada Rabu, 10 Juni 2026.
Angka-angka ini menjadi bukti kuat bahwa ruang gerak ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah di Jateng saat ini memang sepenuhnya bergantung pada kestabilan pasokan BBM subsidi, sehingga migrasi massal dari Pertamax tak lagi terbendung.
Pertamina Tegaskan Stok Melimpah 18 Kali Lipat: "Ini Murni Hukum Ekonomi!"
Taufiq Kurniawan meluruskan opini publik melalui pesan WhatsApp pada Selasa, 30 Juni 2026, dan menjamin bahwa antrean panjang yang terjadi di wilayahnya sama sekali bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan atau krisis energi dari hulu.
"Kondisi stok solar pada posisi 15 kali lipat konsumsi normal. Beberapa SPBU yang antriannya panjang karena sedang tinggi permintaan, faktor terpengaruh kejadian di provinsi tetangga juga jadi trip mau kesana takut kehabisan isi disini. Untuk stok pertalite lebih aman lagi 18 kali lipat konsumsi normal. Antrian bukan berarti langka tapi tingginya permintaan," tegas Taufiq pada Selasa, 30 Juni 2026.
Baca Juga: Big Bad Wolf Kembali ke Semarang, Bawa Sejuta Buku untuk Bangkitkan Minat Baca Generasi Muda
Taufiq menambahkan, penumpukan kendaraan kerap terjadi secara sporadis di wilayah padat penduduk, kawasan transisi antar-kota, serta jalur trans/logistik.
Ironi MyPertamina: Konsumsi Pertalite Meroket, Tapi Pendaftar Barcode Mandek
Di sisi lain, Pertamina membeberkan fakta ironis terkait pengawasan penyaluran BBM bersubsidi di lapangan. Di tengah melonjaknya volume antrean Pertalite oleh pengendara roda dua akibat migrasi mandiri dari Pertamax, kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan kendaraan mereka di sistem MyPertamina justru berjalan di tempat.
Meskipun sistem pembelian menggunakan skema QR Code atau barcode MyPertamina dinilai masih sangat efektif sebagai instrumen kontrol, pertumbuhan jumlah pendaftarnya sangat memprihatinkan.
"Sistem pembelian dengan barcode masih efektif. Dan dengan adanya peningkatan konsumsi pertalite tidak diimbangi dengan pendaftaran QR code yang bertambah. Per hari paling cuma 10 se-Kota Semarang, dikit banget," ungkap Taufiq.
Kontributor : Ilma Latif
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bawa 10,63 Gram Sabu dari Pontianak, Dua Kurir Ditangkap di Pelabuhan Tanjung Emas
-
Profil Brigjen Roy Hardi Siahaan, Kapolda Jateng Pengganti Ribut Hari Wibowo
-
Kapolda Jateng Irjen Ribut Hari Wibowo Dimutasi, Digantikan Brigjen Roy Hardi Siahaan
-
Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Dorong Perputaran Ekonomi hingga UMKM Lokal
-
Polresta Solo Siapkan 350 Personel Amankan Laga Persis Solo vs Kendal Tornado FC