Ronald Seger Prabowo
Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB
Mantan Bupati Batang sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo (kanan), meninjau korban keracunan MBG di RSUD Batang, Kabupaten Batang. [Pemkab Batang]
Baca 10 detik
  • Anggota Komisi VIII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo meninjau korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis di RSUD Batang pada Kamis, 24 September 2026.
  • Yoyok meminta Badan Gizi Nasional memperketat pengawasan, mengevaluasi kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, dan memberikan peringatan tegas bagi unit yang bermasalah.
  • Ia menilai pelaksanaan program harus berfokus pada kualitas gizi anak, bukan sekadar aspek bisnis semata, untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

SuaraJawaTengah.id - Peristiwa dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, memicu sorotan terhadap pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Anggota Komisi VIII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan dan memberikan peringatan tegas kepada SPPG yang tidak memenuhi standar kualitas.

Yoyok menyampaikan hal itu setelah meninjau kondisi korban dugaan keracunan MBG yang menjalani perawatan di RSUD Batang, Kamis (24/9/2026). Menurutnya, evaluasi diperlukan karena kejadian serupa disebut telah terjadi untuk kedua kalinya.

Yoyok mengaku prihatin setelah melihat sebagian korban merupakan warga Kecamatan Bawang, yang juga merupakan kampung halamannya.

“Ya Allah, kuwi kabeh tetanggaku Mas Bupati (itu semua tetangga saya Mas Bupati). Ya saya prihatin dan cukup kaget, makanya saya langsung nengok ke sini,” kata Yoyok usai meninjau korban di Ruang Wijayakusuma RSUD Batang melansir laman resmi Pemkab Batang.

Ia juga mengapresiasi respons cepat Pemerintah Kabupaten Batang dan tenaga medis dalam menangani para korban.

“Terima kasih Mas Bupati, Bu Kepala Dinkes dan Bu Direktur RSUD, tetangga saya sudah ditangani dengan cepat,” ujarnya.

Minta SPPG Bermasalah Diberi Peringatan

Di sisi lain, Yoyok menegaskan dirinya tidak menolak program MBG yang merupakan program pemerintah. Ia justru mengapresiasi tujuan program tersebut dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia.

Baca Juga: Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Namun, menurut dia, pelaksanaan program di tingkat bawah perlu mendapat perhatian lebih. Ia meminta orientasi pelaksanaan MBG tetap berfokus pada peningkatan kualitas gizi penerima manfaat, bukan semata-mata aspek bisnis.

“Saya enggak menolak program MBG, justru apresiasi kerja dari Presiden yang berniat memberikan gizi bagi anak-anak Indonesia,” katanya.

“Program tersebut sebetulnya baik, hanya saja perlu diketahui lebih mendalam apa orientasi para pelaksana hingga tingkat bawah. Andaikata orientasinya itu bukan meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia, tapi malah bisnis, sampai kapan Mas Daryono sebagai Kepala BGN kuat,” lanjutnya.

Yoyok juga menyoroti beban pelayanan SPPG yang menurutnya cukup besar. Ia menyebut satu SPPG dapat melayani sekitar 2.600 porsi makanan yang harus disiapkan dalam waktu singkat untuk kemudian didistribusikan kepada penerima manfaat pada hari berikutnya.

Karena itu, ia meminta BGN memperkuat mekanisme evaluasi terhadap kinerja SPPG. Penghargaan dapat diberikan kepada SPPG yang memenuhi standar dan menunjukkan kinerja baik, sedangkan SPPG yang bermasalah harus mendapat peringatan serta evaluasi.

“Saran saya Mas Daryono harus mulai memberikan penghargaan apabila berprestasi dan peringatan apabila SPPG bermasalah,” pungkasnya.

Load More