Ronald Seger Prabowo
Rabu, 30 September 2026 | 10:15 WIB
Ilustrasi Peristiwa G30S PKI yang terjadi di Jawa Tengah. [ChatGPT]
Baca 10 detik
  • Heri Isranto menyaksikan berbagai peristiwa mencekam dan mendapat ancaman dari anggota PKI di Solo tahun 1965.
  • Keluarga Heri bersama dua tokoh agama masuk dalam daftar eksekusi PKI karena pengaruh keagamaan mereka.
  • Heri dan keluarganya bersyukur dapat selamat dari situasi penuh ketegangan serta ancaman masa lalu tersebut.

SuaraJawaTengah.id - Suasana mencekam di Solo pada sekitar 1965 masih membekas dalam ingatan Heri Isranto. Saat itu, usianya baru delapan tahun dan ia tinggal bersama kakeknya di Jalan Honggowongso, tepat di depan sebuah bangunan yang menurut kesaksiannya menjadi markas Partai Komunis Indonesia atau PKI di Solo.

Heri, yang akrab disapa Gogor, mengaku menyaksikan berbagai peristiwa yang membuatnya ketakutan. Salah satu pengalaman yang paling diingatnya terjadi ketika ia mendapat ancaman dari seseorang yang disebutnya sebagai anggota PKI.

"Saya yang sekecil itu saja sudah mendapat ancaman, mulai kata-kata dan sempat diberi keringat ketiak dikasihkan ke hidung saya," kata Heri kepada Suara.com.

Merasa terancam, Heri mengaku spontan menendang orang tersebut. Ia kemudian dikejar hingga akhirnya tetangga meminta agar pengejaran dihentikan.

Kenangan lain yang tak kalah mencekam adalah ketika Heri mengaku kerap melihat orang dibawa masuk ke bangunan tersebut. Dari rumahnya, ia mendengar suara orang yang menurutnya sedang dipukuli.

Heri Isranto (kiri) (Istimewa)

"Sering saya melihat orang dibawa masuk lalu terdengar suara dipukuli," ujarnya.

Keluarga Heri juga mengaku pernah menemukan dokumen yang disebut mencantumkan nama keluarganya serta dua tokoh agama, H Asngat dan H Sangidu, dalam daftar eksekusi.

Heri mengatakan, berdasarkan cerita keluarganya, mereka dianggap sebagai tokoh agama yang memiliki pengaruh di lingkungan sekitar.

Kakek Heri disebut merupakan aktivis Muhammadiyah. Keluarganya memiliki rumah dan lahan di kawasan tersebut yang kemudian diwakafkan, termasuk untuk Masjid At Taqwa yang kini menjadi bagian dari kompleks SMA Al Islam Solo.

Baca Juga: Diduga Intip dan Merekam Wanita di Kamar Mandi GOR Sritex Arena, Pria Ini Diamankan Polisi

Heri mengaku pengalaman masa kecil tersebut menjadi kenangan yang tidak pernah hilang. Ia bersyukur keluarganya selamat dari situasi penuh ketegangan pada masa itu.

"Pengalaman pahit itu menjadi cerita yang tidak bisa dilupakan. Saya bersyukur saya bersama keluarga masih dilindungi Allah SWT," tuturnya.

Load More